Jangan Takut di Setiap Jalan yang Berliku


 Oleh : Rifqi Almuiz
Kader IMM FKIP UMS

   Cerita ini sengaja saya buat dengan rangkaian kata-kata yang terbenak difikiran saya dan sedikit saya kaitkan dengan pengalaman saya semasa berproses, karena dengan sebuah proseslah semua orang akan merasakan yang Namanya sukses. Tidak ada sesuatu yang instan jika belum merasakan pahitnya kehidupan karena skenario tuhan lebih indah dari apa yang kita bayangkan.
berangkat dengan menggandeng perasaan lemas, letih, lesu, pagi itu hampir saja menyerah. Namun teringat Kembali dengan apa yang pernah saya katakan pada diriku ini yang tertulis di sebuah kertas samping pintu kamar kost, agar dikala saya kehilangan semangat dapat termotivasi Kembali dengan kalimat yang pernah saya buat. “kamu harus berproses dengan sungguh-sungguh”. Dari kalimat yang pernah saya katakan kepada diriku akhirnya semangatku Kembali terbangun.
  Menjadi mahasiswa bukan hanya berbicara soal buku, melainkan bagaimana seorang mahasiswa dapat membawa perubahan bagi masa depan bangsa. Menelisik sejarah mahasiswa sejak tahun 1908, tugas mahasiswa bukan hanya fokus terhadap bidang yang mereka pilih, melainkan bagaimana sebagai mahasiswa dapat menjadi generasi muda atau saat ini disebut sebagai “generasi emas” yang menjadi harapan bangsa indonesia dalam bidang sosial, Pendidikan, kebudayaan, dan pengajaran.
“menolak tunduk dan bangkit melawan, karena diam adalah kehancuran dan mundur adalah penghianatan”. Itulah sebuah kalimat singkat penuh makna yang saya dapatkan sewaktu proses pengkaderan beberapa bulan lalu. Membuat saya dan mungkin seluruh teman-teman saya terkejut dan tersadar bahwa Sikap apatis atau netral yang hanya mengikuti arusnya itu seperti halnya tidak punya pendirian, hidup hanya dipasrahkan kepada orang yang berkuasa. Dari kalimat tersebut membuat saya yang dulu bersikap biasa-biasa saja dan tidak tahu apa-apa dari hal tersebut kini saya berfikir dan selalu menuntut keadaan untuk terus semangat didalam berproses.
  menjadi mahasiswa bukan sekedar belajar, menerima tugas Dari dosen lalu dikerjakan, dan mendapatkan nilai tinggi. Ya pasti semua mahasiswa senang dan Bahagia Ketika mendapatkan nilai yang tinggi nilai yang dinanti-nanti. Disisi lain Jika mahasiswa hanya berfokus pada satu sisi saja Tentu hal tersebut sudah menyeleweng dari fungsi dan makna MAHASISWA, dimana kitalah yang menjadi kontrol kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai- nilai keadilan dimasyarakat. menjadi mahasiswa tentunya harus bebas, merdeka atau independent dalam artian mahasiswa juga mempunyai hak untuk menyampaikan suaranya, suara rakyat, dan suara kita semua.
  Bersikap netral atau tidak memihak pada pilihan inilah yang salah terhadap persepsi mahasiswa. Bersikap netral berarti kita membiarkan penguasa memerintah sepuasnya sendiri, iya kalau tujuannya mensejahterakan kalau sebaliknya?. Nah disinilah saya baru sadar dan memahami bahwasannya memilih untuk mengambil keputusan itulah jalan yang paling tepat untuk memposisikan diri agar terhindar dari segala penindasan. Sebagaimana kata “Paulo Freire” seorang tokoh Pendidikan brazil “The educator has the duty of not being neutral”Pendidikan memiliki tugas untuk tidak netral. Tokoh yang melawan penindasan dan perbudakan yang terus dilakukan oleh kaum penguasa “feodalisme”. Itulah serpihan ilmu beberapa waktu lalu yang masih saya ingat dan menjadi pelajaran bagi saya tentang bagaimana memanusiakan manusia tanpa sebuah penindasan.
  Tiga hari merupakan waktu yang sangat singkat bagi saya di dalam berproses membekali diri menjadi pribadi yang insyaallah dapat membawa perubahan “agent of change”. namun belum cukup sampai disini, perjalanan masih Panjang waktu tiga hari itu merupakan dasar pijakan untuk melangkah lebih maju, melangkah lebih jauh, melangkah lebih berani dalam menghadapi pergolakan yang silih berganti sehinga penerus bangsa ini bersih dan terhindar dari dictator mayoritas dan tirani minoritas. Mencari ilmu tanpa tahu dari siapa seperti pergi kesebrang danau namun tak tahu tujuannya apa.
  Seniorku dan temanku! itulah pahlawan setelah keluargaku. Panggilan yang pantas yang telah membuatku menjadi selaras dengan dunia yang semakin keras, dimana saya dapat Bahagia dan bertukar cerita bersama hingga pada saatnya nanti dunia memisahkan kita untuk tidak lagi saling bersama. Menjadi bagian dari keluarga IMM memang tak mudah bagi saya, banyak proses yang harus dilalui. proses itulah yang dapat mengembangkan kedewasaan saya dan tentu saya juga sangat bersyukur dan berterima kasih karena melalui IMM dan dorongan teman-temanlah sehingga saya menjadi pribadi yang mandiri, dan selalu berusaha lebih baik dari hari kemarin yang tak semua orang tahu dan mengerti.
   Kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah masa lalu, namun apapun yang kita lakukan saat ini semoga bisa merubah masa depan. Dibalik kehebatan seseorang terdapat teman, orang tua, dan orang-orang terdekat yang selalu memberikan motivasi dan rasa percaya diri. Namun banyak orang yang menentang akan hal itu setelah dia sukses tak jarang dari mereka hanya memikirkan sikap individualismenya padahal mereka dapat berdiri tegak seperti yang ia harapkan lima puluh persen bahkan lebih itu dari motivasi yang diberikan oleh orang disekitarnya. Selalulah mengingat orang-orang yang memberimu sebuah ilmu dan manfaatkanlah ilmu yang kita dapat untuk hal baik, keberhasilah atau kesuksesan seseorang terkadang memang membuat lupa dengan tujuan awalnya.
  
Ada anak kecil memakai baju gambarnya burung garuda, 
bangsa ini takkan maju kalau bukan ditangan pemuda. 
Mohon maaf masih banyak kesalahan karena saya pribadi penuh dengan kekurangan,
 Terima kasih sudah membaca.

Share:

No comments:

Post a Comment

Popular

Labels

Recent Posts

Label Cloud

About (2) Agenda (8) Artikel (21) bidang hikmah (1) Bidang Immawati (1) Bidang Kader (1) bidang SPM (1) BTKK (2) buletin (2) Data Base (1) ekowir (1) galeri (5) Immawan (2) Immawati (9) Informasi (8) islam (2) Kajian (1) MAKALAH (2) Opini (15) Organisasi (2) Profil (1) Puisi (4) Resensi (6) Review (1) struktur (1) Tabligh (2)

QOUTES

Tidak akan ada kebenaran yang muncul di kepala, bila hati kita miskin akan pemahaman terhadap ajaran agama Allah.
-KH.Ahmad Dahlan