Pemenang Mother Day Competition tahun 2021

Lomba Artikel: 

Pemberdayaan Perempuan dalam Ranah Ekonomi sebagai Upaya Penghapusan Marginalisasi

OlehYuliana Risqi

A.    Pendahuluan

Pembahasan terkait gender semakin hari  semakin hangat diperbincangkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh kemajuan perkembangan perempuan yang mampu menempati posisi dan status penting dalam segala bidang. Di satu sisi gender menjadi suat persoalan rumit yang pembahasannya tidak ada habisnya, padahal jika dilihat di masyarakat emansipasi perempuan masih belum sepenuhnya bisa diterima. Meskipun secara konseptual masyarakat sudah memahami emansipasi, akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum bisa dikatakan ideal. Perempuan mungkin saja sudah diberi kebebasan dalam pendidikan dan ekonomi, namun tetap saja dalam realitanya mereka masih diikat dengan patriarki yang masih kental sehingga menghambat dan memberikan kondisi yang dilematis terhadap posisi perempuan.

Marginalisasi merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender yang masih sering ditemukan di dalam masyarakat. Perempuan dipandang sebagai kaum kelas dua. Peran perempuan dalam perekonomian sering dipertanyakan, dinilai tidak layak dan tidak mampu. Kaum perempuan yang terjun ke ranah ekonomi hanya dianggap “working for lipstic” dimana hasil kinerjanya masih dipandang sebelah mata.

Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indonesia tercatat naik yang pada 2016 berada di angka 71,39 pada tahun 2017 menjadi 71,74. IDG sendiri merupakan indikator yang menunjukkan seberapa besar perempuan dapat memainkan peranan aktif dalam kehidupan ekonomi dan politik. Meskipun dalam database tingkat pendidikan perempuan berada pada taraf yang lebih tinggi , namun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Perempuan masih lebih rendah dan stagnan dibandingkan dengan laki-laki yang tercatat hampir dua kali lipat jumlahnya.

 

B.     Pembahasan

1.    Marginalisasi

Marginalisasi merupakan proses pengabaian hak-hak yang seharusnya didapat oleh pihak yang termarginalkan. Menurut Fakih (2008:14), dalam prosesnya marginalisasi bisa disebut sebagai proses pemiskinan. Hal tersebut disebabkan oleh  tidak adanya kesempatan yang diberikan untuk mengembangkan diri. Begitu pula yang dirasakan perempuan saat terjadi marginalisasi gender. Perempuan sangat dirugikan dengan adanya ketidakadilan gender ini.

Seperti halnya dalam sektor ekonomi, perempuan dianggap bekerja hanya untuk tambahan nafkah keluarga, padahal pada kenyataannya tidak sedikit perempuan yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Beberapa industri juga menerapkan perbedaan gaji dimana gaji laki-laki lebih tinggi, hal ini tentu saja suatu ketidakadilan karena sistem gaji tidak didasarkan pada beban kerja ataupun kualitas kerja karyawan. Meskipun jika dilihat dari sisi keahlian dan pendidikan perempuan bisa bersaing, akan tetapi pemilik usaha biasanya memiliki pandangan bahwa laki-laki lebih bisa fleksibel sedangkan perempuan kurang produktif karena memerlukan cuti hamil, melahirkan, sulit untuk lembur karena memiliki keharusan untuk mengurus rumah tangga dan dibatasi aturan masyarakat.. Banyak sekali problematika yang harus dihadapi perempuan saat memutuskan untuk bekerja diluar diantaranya adalah pelecehan di tempat kerja dan juga beban ganda. Hal ini tentu menimbulkan dilema dalam diri perempuan.

Dalam prosesnya, marginalisasi tidak hanya berasal dari eksternal namun juga dari internal. Salah satunya adalah jiwa insecure yang membuat perempuan merasa tidak percaya diri untuk bersaing dengan laki-laki. Perempuan hidup di tengah masyarakat yang menganut patriarki dimana mereka dituntut untuk memiliki sifat yang lemah lembut dan terpenjara oleh berbagai statement kuno sehingga sulit menanamkan kemandirian dalam dirinya. Selain itu, marginalisasi dapat timbul dari berbagai sumber diantaranya kebijakan pemerintah, tradisi dan buadaya, keyakinan, asumsi ilmu pengetahuan, atau bahkan tafsiran agama.

             

2.      Peran Perempuan dalam Ranah Ekonomi

Semakin hari kebutuhan semakin meningkat, hal ini membuat manusia harus berpikir untuk memenuhi kebutuhan pokok dan  meningkatkan kualitas hidup. Bukan hanya laki-laki saja, namun para  perempuan juga dengan semangat mencari peluang untuk bekerja. Perempuan memiliki peran yang sangat beragam, dari mendidik,mengasuh anak hingga menuntut karir. Oleh sebab itu, saat ini tidak sedikit perempuan memerankan peran laki-laki yaitu mencari nafkah untuk keluarganya. Dunia kerja yang semula didominasi oleh laki-laki, sekarang mulai bergeser dan mendapat lakon baru yaitu perempuan.

Tidak bisa dipungkiri perempuan saat ini banyak yang menduduki jabatan strategis baik di perusahaan BUMN, swasta maupun dalam pemerintahan itu sendiri. Tidak sedikit pula perempuan yang menjadi owner bisnis dengan omset ratusan bahkan miliaran rupiah. Saat ini para perempuan mulai unjuk gigi menampakkan kemandirian dan mengeksplor diri. Pada dasarnya sejak dulu perempuan juga memiliki peran yang cukup besar dalam menyumbang devisa untuk negara dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Begitu besar kontribusi perempuan dalam sektor ekonomi, akan tetapi hal tersebut masih tidak cukup untuk membuat perempuan dipandang layak dan sebanding dengan laki-laki.

 

3.      Strategi Pemberdayaan Perempuan

Menurut Prijono dan Pranaka (1996) Pemberdayaan perempuan adalah suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar, kekuasaan dan pengawasan pembuatan keputusan yang lebih besar dan tindakan transformasi agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan laki-laki. Pemberdayaan perempuan merupakan sebuah  strategi yang penting guna meningkatkan peran aktif perempuan dalam peningkatan potensi

Pemberdayaan perempuan dapat dilakukan dengan strategi sebagai berikut:

1.      Menghapus mitos bahwa perempuan hanyalah pelengkap dalam rumah tangga.

2.      Melatih dan membimbing perempuan agar memiliki berbagai ketrampilan.

3.      Memfasilitasi perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

4.      Mensupport perempuan agar memiliki kepercayaan diri dan meningkatkan kapasitasnya.

5.      Membimbing perempuan agar memiliki kemandirian terutama kemandirian ekonomi.

6.      Memberi ruang bagi perempuan untuk berkarya dan mendukung segala usaha/bisnis yang sedang dirintis.

 

C.    Simpulan

Marginalisasi dapat diartikan sebagai peminggiran atau upaya pemiskinan. Marginalisasi merupakan suatu bentuk ketidakadilan gender yang masih banyak ditemui di masyarakat. Dalam prosesnya marginalisasi dapat muncul dari berbagai sumber. Marginalisasi juga terdapat di berbagai bidang salah satunya di sektor ekonomi. Perempuan harus memiliki daya saing dan kemandirian agar bisa mendapat tempat di masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya upaya memfasilitasi perempuan dalam mengembangkan diri. Pada dasarnya peran perempuan dalam mendukung perekonomian sudah sangat besar akan tetapi masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Oleh sebab itu, perlu adanya kerjasama berbagai pihak untuk menghapuskan marginalisasi demi terwujudnya kemandirian perempuan di sektor ekonomi.

Daftar Pustaka

[1][1]  R. Probosiwi, “Perempuan Dan Perannya Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (Women and Its Role on Social Welfare Development),” Natapraja, vol. 3, no. 1, 2015, doi: 10.21831/jnp.v3i1.11957.

[2]      E. Aslan, M. K. Hermansen, and E. Medeni, “Early Community Politics and the Marginalization of Women in Islamic Intellectual History,” Muslima Theol., no. September, 2016, doi: 10.3726/978-3-653-03238-3/5.

[3]      D. Muliadi, “Universitas Sumatera Utara 7,” pp. 7–37, 2015.

 


Lomba Cipta Baca Puisi:

“SUARA PUAN”

Oleh: Fajry Annur

 

Suara-suara sumbang masih melantun dengan khidmat

Antara bersuara dan juga bisu dengan seksama

Siapa yang disuarakan di sini?

Perempuan telah hilang nilai dalam hak asasi

 

Siapa yang musti membela?

Jika bukan kaum Puan sendiri

Perempuan yang melahirkan zaman

Tak pantas dilucuti dalam sejarah peradaban

 

Berserulah, sebab dari kita orang-orang hidup

Jika tangis lirih kita masih terabai

Setidaknya harum suara kita masih bergema membelai

Bukan dengan senjata, kita membela dengan akal budi

 

Kita perempuan yang Berdikari

Bersuara lantang atas ketidakadilan yang terjadi

Kita perempuan yang hebat

Kuat dan tangguh, meski hati merona terluka

 

Bungkam bukan solusi

Nenek kita pertiwi sedang dilucuti

Saudara kita direnggut harga dirinya

Mari bersuara Puan! Bungkam mereka yang menginjak-injak martabat!

Solo, 27 Desember 2021

 

Share:

No comments:

Post a Comment

Popular

Labels

Recent Posts

Label Cloud

About (2) Agenda (8) Artikel (21) bidang hikmah (1) Bidang Immawati (1) Bidang Kader (1) bidang SPM (1) BTKK (1) buletin (2) Data Base (1) ekowir (1) galeri (5) Immawan (2) Immawati (9) Informasi (8) islam (2) Kajian (1) MAKALAH (2) Opini (15) Organisasi (2) Profil (1) Puisi (4) Resensi (6) Review (1) struktur (1) Tabligh (2)

QOUTES

Tidak akan ada kebenaran yang muncul di kepala, bila hati kita miskin akan pemahaman terhadap ajaran agama Allah.
-KH.Ahmad Dahlan