Jangan Takut di Setiap Jalan yang Berliku


 Oleh : Rifqi Almuiz
Kader IMM FKIP UMS

   Cerita ini sengaja saya buat dengan rangkaian kata-kata yang terbenak difikiran saya dan sedikit saya kaitkan dengan pengalaman saya semasa berproses, karena dengan sebuah proseslah semua orang akan merasakan yang Namanya sukses. Tidak ada sesuatu yang instan jika belum merasakan pahitnya kehidupan karena skenario tuhan lebih indah dari apa yang kita bayangkan.
berangkat dengan menggandeng perasaan lemas, letih, lesu, pagi itu hampir saja menyerah. Namun teringat Kembali dengan apa yang pernah saya katakan pada diriku ini yang tertulis di sebuah kertas samping pintu kamar kost, agar dikala saya kehilangan semangat dapat termotivasi Kembali dengan kalimat yang pernah saya buat. “kamu harus berproses dengan sungguh-sungguh”. Dari kalimat yang pernah saya katakan kepada diriku akhirnya semangatku Kembali terbangun.
  Menjadi mahasiswa bukan hanya berbicara soal buku, melainkan bagaimana seorang mahasiswa dapat membawa perubahan bagi masa depan bangsa. Menelisik sejarah mahasiswa sejak tahun 1908, tugas mahasiswa bukan hanya fokus terhadap bidang yang mereka pilih, melainkan bagaimana sebagai mahasiswa dapat menjadi generasi muda atau saat ini disebut sebagai “generasi emas” yang menjadi harapan bangsa indonesia dalam bidang sosial, Pendidikan, kebudayaan, dan pengajaran.
“menolak tunduk dan bangkit melawan, karena diam adalah kehancuran dan mundur adalah penghianatan”. Itulah sebuah kalimat singkat penuh makna yang saya dapatkan sewaktu proses pengkaderan beberapa bulan lalu. Membuat saya dan mungkin seluruh teman-teman saya terkejut dan tersadar bahwa Sikap apatis atau netral yang hanya mengikuti arusnya itu seperti halnya tidak punya pendirian, hidup hanya dipasrahkan kepada orang yang berkuasa. Dari kalimat tersebut membuat saya yang dulu bersikap biasa-biasa saja dan tidak tahu apa-apa dari hal tersebut kini saya berfikir dan selalu menuntut keadaan untuk terus semangat didalam berproses.
  menjadi mahasiswa bukan sekedar belajar, menerima tugas Dari dosen lalu dikerjakan, dan mendapatkan nilai tinggi. Ya pasti semua mahasiswa senang dan Bahagia Ketika mendapatkan nilai yang tinggi nilai yang dinanti-nanti. Disisi lain Jika mahasiswa hanya berfokus pada satu sisi saja Tentu hal tersebut sudah menyeleweng dari fungsi dan makna MAHASISWA, dimana kitalah yang menjadi kontrol kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai- nilai keadilan dimasyarakat. menjadi mahasiswa tentunya harus bebas, merdeka atau independent dalam artian mahasiswa juga mempunyai hak untuk menyampaikan suaranya, suara rakyat, dan suara kita semua.
  Bersikap netral atau tidak memihak pada pilihan inilah yang salah terhadap persepsi mahasiswa. Bersikap netral berarti kita membiarkan penguasa memerintah sepuasnya sendiri, iya kalau tujuannya mensejahterakan kalau sebaliknya?. Nah disinilah saya baru sadar dan memahami bahwasannya memilih untuk mengambil keputusan itulah jalan yang paling tepat untuk memposisikan diri agar terhindar dari segala penindasan. Sebagaimana kata “Paulo Freire” seorang tokoh Pendidikan brazil “The educator has the duty of not being neutral”Pendidikan memiliki tugas untuk tidak netral. Tokoh yang melawan penindasan dan perbudakan yang terus dilakukan oleh kaum penguasa “feodalisme”. Itulah serpihan ilmu beberapa waktu lalu yang masih saya ingat dan menjadi pelajaran bagi saya tentang bagaimana memanusiakan manusia tanpa sebuah penindasan.
  Tiga hari merupakan waktu yang sangat singkat bagi saya di dalam berproses membekali diri menjadi pribadi yang insyaallah dapat membawa perubahan “agent of change”. namun belum cukup sampai disini, perjalanan masih Panjang waktu tiga hari itu merupakan dasar pijakan untuk melangkah lebih maju, melangkah lebih jauh, melangkah lebih berani dalam menghadapi pergolakan yang silih berganti sehinga penerus bangsa ini bersih dan terhindar dari dictator mayoritas dan tirani minoritas. Mencari ilmu tanpa tahu dari siapa seperti pergi kesebrang danau namun tak tahu tujuannya apa.
  Seniorku dan temanku! itulah pahlawan setelah keluargaku. Panggilan yang pantas yang telah membuatku menjadi selaras dengan dunia yang semakin keras, dimana saya dapat Bahagia dan bertukar cerita bersama hingga pada saatnya nanti dunia memisahkan kita untuk tidak lagi saling bersama. Menjadi bagian dari keluarga IMM memang tak mudah bagi saya, banyak proses yang harus dilalui. proses itulah yang dapat mengembangkan kedewasaan saya dan tentu saya juga sangat bersyukur dan berterima kasih karena melalui IMM dan dorongan teman-temanlah sehingga saya menjadi pribadi yang mandiri, dan selalu berusaha lebih baik dari hari kemarin yang tak semua orang tahu dan mengerti.
   Kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah masa lalu, namun apapun yang kita lakukan saat ini semoga bisa merubah masa depan. Dibalik kehebatan seseorang terdapat teman, orang tua, dan orang-orang terdekat yang selalu memberikan motivasi dan rasa percaya diri. Namun banyak orang yang menentang akan hal itu setelah dia sukses tak jarang dari mereka hanya memikirkan sikap individualismenya padahal mereka dapat berdiri tegak seperti yang ia harapkan lima puluh persen bahkan lebih itu dari motivasi yang diberikan oleh orang disekitarnya. Selalulah mengingat orang-orang yang memberimu sebuah ilmu dan manfaatkanlah ilmu yang kita dapat untuk hal baik, keberhasilah atau kesuksesan seseorang terkadang memang membuat lupa dengan tujuan awalnya.
  
Ada anak kecil memakai baju gambarnya burung garuda, 
bangsa ini takkan maju kalau bukan ditangan pemuda. 
Mohon maaf masih banyak kesalahan karena saya pribadi penuh dengan kekurangan,
 Terima kasih sudah membaca.

Share:

IMM Surakarta dalam masa Critical Eleven


Penulis : IMMawan Achmad Mahbuby

Ketua Umum IMM FKIP UMS Periode 2021/2022

Telah usai perhelatan Musyawarah Daerah (Musyda) ke XX DPD IMM Jawa Tengah yang diselenggarakan sejak 26 Mei 2022,  dan telah terpilih ketua umum yaitu Untung Prasetyo Ilham yang akan menjadi arah gerak IMM Jawa Tengah untuk 2 tahun yang akan datang. Harapan dari penulis bahwa IMMawan Untung Prasetyo dapat memberikan kembali harapan cerah setelah redupnya IMM Jawa Tengah, ditengah kepemimpinan sebelumnya. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam laporan pertanggungjawaban yang dihadirkan oleh DPD IMM Jawa Tengah periode 2018-2020 banyak mengundang tanya, lantaran dalam laporan pertanggungjawaban tersebut tidak terdapat laporan dari sekertaris umum, Bidang Seni Budaya dan Olahraga (SBO), dan terkhususnya bendahara umum padahal, dalam Pedoman Administrasi DPP IMM 2020 BAB V Permusyawaratan pasal 22 tentang Musyawarah Daerah poin 5 terkait acara pokok Musyawarah Daerah salah satunya adalah melaporkan tentang keuangan. Namun hal tersebut tak dapat terpenuhi pada Musyawarah Daerah tahun ini. Banyaknya problematika internal menjadi alasan yang sebenarnya tak bisa diterima karena sekelas DPD IMM Jawa Tengah masih saja terdapat permasalahan yang sama dengan tataran komisariat. 

Namun janganlah terus berlarut-larut dalam masa lalu, ibarat sebuah peribahasa bahwa hidup hanya bisa dipahami secara terbalik, tapi itu dihayati ke depan, untuk menata masa depan yang menanti kita. Terutama IMM kota Surakarta yang sebentar lagi akan mengadakan Musyawarah Cabang (Musycab). Tentu gagasan kedepan dan kritikan selama masa kepemimpinan IMMawan Yogo dan jajarannya sangatlah dinanti, terutama profil yang akan dijadikan sebagai pilot pemandu dalam awak kapal yang bernama IMM kota Surakarta pada periode yang akan datang. Karena kemana pilot akan mengudara, disitu awak kapal akan mendarat, entah mendarat dengan selamat atau sebaliknya. Sesuai dengan judul diatas, bahwa IMM saat ini tengah melewati critical eleven, yaitu IMM sedang digempur habis-habisan oleh kondisi-kondisi yang mengguncang, dimana banyak sekali kondisi diluar ekspektasi yang mengakibatkan masa kritis IMM saat ini. Degradasi generasi dari pandemi covid-19 menuju pada post pandemi covid-19 mengakibatkan lunturnya tradisi-tradisi yang telah lama dibangun, salah satunya adalah tradisi diskusi keilmuan yang mengasilkan banyak dialektika dan pemikiran-pemikiran yang selama ini mewarnai diri IMM. Namun, ketika melihat IMM saat ini seperti kehilangan warnanya sendiri. Bisa dikatakan bahwa saat ini IMM telah banyak menghasilkan kader-kader bermental stroberi, bagus dalam tampilan namun ketika mendapatkan sebuah tekanan sedikit, langsung berubah bentuk alias mleyot.

Belum lagi saat ini akan diadakan serangkaian MASTA Universitas yang menjadi ajang IMM dan beberapa organisasi sejenis akan mencari penerusnya untuk diberikan tampu kepemimpinan selanjutnya. Penulis sedikit ragu, bahwa nantinya IMM akan mampu bersaing dengan organisasi lain, lantaran IMM sendiri telah kehilangan daya pikatnya. Mungkin ini juga menjawab persoalan mengapa kader-kader IMM hanya diisi oleh kader BUMITA, IPM dan mahasiswa yang sudah memiliki ideologi Muhammadiyah sejak lahir, dan tak mampu untuk menggait kader-kader diluar persyarikatan. Hal tersebut mungkin juga termasuk alasan mengapa IMM sudah tidak berwarna dalam persoalan dialektika keilmuan. Tentu tantangan tersebut perlu untuk mendapat banyak perhatian bagi komisariat-komisariat terutama Koordinasi Komisariat (KORKOM) yang menjadi wadah dan fasilitator bagi komisariat. Tak heran ketika KORKOM akan selalu dimintai pandangan, pertanyaan, jawaban dan lain sebagainya yang tentu menurut penulis akan perlu menyisihkan banyak waktu bagi IMMawan Alfan dan para jajarannya. Bukankah memang tujuan didirikannya KORKOM untuk hal-hal demikian ?

Ah, mungkin memang sudah saatnya IMM berkembang menyesuaikan generasi zaman sekarang yang sering merasa insecure, minder-an, baperan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya sedang dilanda quarter life crisis. Kalau tidak, lantas bagaimana ? kembali kepada topik terkait critical eleven, sebenarnya ada satu yang sangat menyasat hati penulis, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Cendekia yang termasuk Lembaga Otonom IMM Cabang kota Surakarta, yang sebenarnya dapat menjadi daya pikat IMM dalam hal kejurnalistikan. Mungkin peribahasa yang cocok untuk menggambarkan LPM Cendekia saat ini yaitu Hidup enggan mati tak mau. Mungkin juga perlu menjadi pertimbangan periode yang akan datang, bahwa ketika memberikan sebuah amanah dan tanggungjawab haruslah pada orang yang tepat dan dapat memprioritaskan apa yang menjadi tanggungjawab yang telah diberikan, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa hal tersebut selain akan dilaporkan dalam forum Musyawarah BPO (Bapan Pimpinan Otonom) atau dalam Musyawarah Cabang (Musycab) juga akan dilaporkan kepada Allah SWT kelak di akherat nanti.

Sedikit penutup dari penulis yang dapat dijadikan bahan pertimbangan, bahan analisis dan juga bahan berdiskusi di ruang terbuka, bahwa siapakah pilot sejati, tanpa kepentingan pribadi atau kepentingan sebagian golongan, entah itu intervensi alumni ataupun lain sebagainya yang sejenis, mampu untuk memimpin kita melewati critical eleven saat ini ? semoga mereka yang terpilih benar-benar yang terbaik untuk IMM cabang kota Surakarta yang akan datang, dan mereka yang tak akan getir dalam menjunjung asas kebersamaan ikatan.


Share:

URGENSI KEMENTRIAN KEPEREMPUANAN DALAM BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA

 

Oleh : Achmad Mahbuby

Mahasiswa PGSD UMS

        Apabila kita meneliti sejarah peradaban kaum perempuan dari masa jahiliah hingga masa saat ini, tak kan pernah terlepas dari yang namanya diskriminasi. Terlebih sebelum turunnya risalah kenabian, dimana perempuan sama sekali tidak dihargai bahkan hingga dianggap sebuah aib bagi keluarga yang melahirkan seorang perempuan. Sampai saat ini sebenarnya praktik-praktik diskriminasi terhadap kaum perempuan masih banyak terjadi, hanya saja kaum perempuan sendiri tak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang mengalami sebuah diskriminasi atau bahkan tidak peduli. Seperti yang ditulis oleh Mansour Fakih dalam bukunya yang berjudul Analisis Gender dan Transformasi sosial, disebutkan bahwa perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk, antara lain marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotype atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih panjang dan lebih banyak serta sosialisasi ideologi nilai peran gender. Eksploitasi terhadap kaum perempuan juga marak terjadi di era modern saat ini, dimana media sangat berperan segala lini kehidupan. Namun, media pun juga turut andil dalam eksploitatif kaum perempuan. Contoh yang sering kita jumpai sekarang ini yaitu erotisme tubuh perempuan yang dijadikan sebagai objek periklanan snack video, bigo live, dan aplikasi sejenisnya yang tersebar luas di media sosial. Arif Saifudin Yudistira dalam bukunya yang berjudul Penjara Perempuan menyebutkan fenomena tersebut sebagai erotika media massa yang selalu menyuguhkan perempuan sebagai objek kapitalisme yang empuk. Dalam menyikapi hal tersebut, perempuan harus mengambil porsi-porsi penting dalam setiap tatanan masyarakat. Gramsci dalam teori hegemoninya yang menjelaskan terkait kemenangan suatu kelas dominan. Ketika perempuan tidak mengambil peran-peran penting, maka dalam upaya penghapusan budaya-budaya patriarki yang terus melembaga akan menjadi suatu hal yang mustahil. Terkhusus perannya dalam student government kampus. Mengutip dari tulisan Riza Fitroh yang berjudul Perempuan dan  Budaya Intelektual Profetik dalam buku Jejak Literasi yang diterbitkan pada tahun 2019, Ia menyebutkan bahwa kaum perempuan bukanlah sebuah kaum yang inferior, contoh konkrit adalah Ratu Saba’ yang telah memimpin tanpa mengesampingkan kaum laki-laki dalam mengambil sebuah keputusan

Arah Gerak Kementrian Keperempuanan

Dalam membentuk suatu kementrian dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tentu tidak asal melakukan pembentukan, namun juga perlu diperhatikan arah gerak kedepannya akan seperti apa, agar supaya dapat terus berkelanjutan. Kementrian keperempuanan dapat diarahkan pada terciptanya kesetaraan gender, kesejahteraan, dan perlindungan perempuan dalam lingkup kampus, serta melakukan kegiatan dalam rangka pemberdayaan perempuan. Namun yang akan menjadi urgensi penting dalam pembentukan kementrian kerempuanan adalah menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.

Kementrian keperempuan juga mampu untuk menjadi sebuah badan pelayanan pengaduan kekerasan seksual dalam lingkup kampus, menjadi tim investivigasi dalam rangka penyelidikan kasus kekerasan, serta dapat bekerjasama dengan psikolog dalam penanganan korban. Kementrian keperempuanan juga mampu membuat sebuah SOP penanganan kekerasan seksual di lingkup kampus, sehingga nantinya ketika terjadi kasus kekerasan seksual baik berupa verbal ataupun non-verbal akan dapat tertangani dengan sigap dengan mengacu pada SOP tersebut.

Sedikit curhatan penulis yang merasa sangat prihatin, bahwa ketika kasus-kasus kekerasan seksual dalam lingkup kampus justru tidak ditangani dengan serius lantaran takut akan memengaruhi citra dan akreditasi kampus ataupun fakultas. Namun dengan ditulisnya artikel ini Diharapkan mampu untuk menggungah semangat para mahasiswa yang membaca serta dapat terealisasikan pembentukan Kementrian Keperempuanan dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Surakarta.


Share:

Umat yang Dirindukan

oleh: Muhammad Albi Almahdy
Kader PK IMM FKIP UMS 2021/2022

Suatu hari, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, mengimami salat subuh. Pagi itu, seusai sholat subuh Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya. “Menurut kalian siapakah makhluk Allah yang paling menakjubkan keimanannya?”.

Para sahabat menjawab, “Malaikat yaa Rasulullah!” 

Nabi menjawab “Bagaimana malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah.”

“Kalau begitu, para Nabi, ya Rasulullah.” 

Nabi menjawab “Bagaimana para Nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka.” 

“Kalau begitu, sahabat-sahabatmu ini (kami), ya Rasulullah.” 

Nabi menjawab lagi “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Telah datang kepada kalian ayatayat Allah, kalian hidup bersama Rasul-nya Allah, kalian menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku. Maka ketahuilah, orang-orang yang paling menakjubkan keimanan-nya adalah ummat yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, padahal tidak melihatku. Mereka membenarkanku tanpa menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan (tentangku) dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa yang ada dalam tulisan itu. mereka membelaku seperti kalian membelaku. Mereka itulah saudara-saudaraku, mereka lah ummatku!” 

 Dalam Riwayat lain disebutkan: 

Dari Auf bin Malik dia berkata, Rasulullah bersabda : “Alangkah inginnya aku bertemu dengan saudara-saudaraku (ummatku).” 

Para sahabat bertanya: yaa Rasulullah, bukankah kami ini adalah saudaramu dan sahabatmu? Rasulullah menjawab : Bukan, tetapi mereka adalah ummat yang datang setelah kalian, mereka beriman kepadaku seperti keimanan kalian, mereka membenarkanku sebagaimana kalian membenarkanku, mereka menolongku seperti kalian menolongku, Alangkah baiknya aku bertemu dengan saudaraku (ummatku) itu! 

Kemudian Nabi saw. membaca (QS Al-Baqarah [2] : 3) “Mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari yang Kami berikan kepada mereka.” (Al-Duur al-Mantsur [1:66-68] Tafsir Al-baqarah: 2). 

Berdasarkan kedua hadits diatas, bisa kita renungkan betapa besarnya kecintaan dan kerinduan Rasulullah kepada kita sebagai ummat setelahnya, sampai-sampai beliau mengulangi sabda-nya bahwa beliau ingin sekali berjumpa dan bertemu dengan ummat-nya. Ummat yang dalam hadits tersebut adalah ummat yang juga luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah, keimanan-nya mulia sebagaimana keimanan para sahabat, padahal ummat itu sama sekali belum pernah bertemu dengan Rasulullah. Siapa pula ummat itu jikalau bukan kita? 

Siapa lagi kalau bukan kita, karena kitalah ummat yang mengaku beriman kepada Rasulullah setelah wafatnya? Lantas apakah kita sekarang ini, yang bersaksi atas Rasulullah dan mengaku-ngaku beriman sudah benar-benar mencintai Rasulullah, sudahkan kita cinta kepada beliau sebagaimana cintanya Rasulullah kepada kita? Bahkan dalam Al-Qur’an sendiri dikisahkan bagaimana kasih sayang-nya Rasulullah kepada ummatnya, rela mengorbankan jiwa dan raga-nya, rela mengorbankan nyawanya.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Surah At-taubah: 128)

Menjelang wafatnya Rasulullah, beliau berdoa “Ya Allah, kalaulah diperkenankan, mohon timpakan saja seluruh penderitaan (rasa sakit-nya) sakaratul maut ini hanya kepadaku, agar ummatku tidak merasakan lagi penderitaan sakaratul maut itu.” (Ust. Adi Hidayat) 

Ikhwah fillah... 

Renungkanlah, bagaimana permohonan kasih sayangnya Rasulullah untuk ummatnya dan kerelaan beliau yang mau mengorbankan segala-galanya hanya untuk kemudahan bagi ummat-ummatnya, itu menunjukkan betapa luar biasanya kerinduan Rasulullah kepada kita, beliau menginginkan kita bertemu dengannya. Lihatlah bagaimana perjuangan beliau agar kita mendapatkan kemudahan dan keringanan dalam menegakkan Islam dan Iman kita. Beliau ingin kita menjadi ummatnya yang beriman agar dapat berjumpa dengannya di akhirat nanti, alangkah tega-nya kita jika tak rindu dan cinta kepada Rasulullah, maka rugilah jika kita tidak menyadari hal ini, rugilah kita jika tidak menjadi orang yg bertaqwa dan beriman kepadanya, sangat merugilah kita jika tidak bertemu dengannya di akhirat nanti, sedangkan di dunia tidak pula bertemu dengannya.

Melihat keadaan kita di zaman sekarang ini, banyak orang-orang yang mengatakan bahwa mereka cinta dan beriman kepada Rasulullah, melantukan shalawat-shalawat kepada Rasulullah. Tetapi akhlaknya tidak sesuai dengan akhlak yang diteladankan oleh Rasulullah, amalan mereka sama sekali tidak menunjukkan cinta kepada beliau. Lihatlah keadaan ummat muslim yang mengaku-ngaku beriman kepada Rasulullah tetapi ketika mendengarkan ucapan atau hadits dari Rasulullah, mereka mengganggap itu tidak penting, tidak keren, merasa ucapan Rasul adalah sesuatu yang sudah biasa, tidak eksis dengan masa kini, dsb. 

Tetapi ketika mendengarkan ucapan para Ahli, ilmuwan-ilmuwan terkemuka, penyair-penyair, pepatah-pepatah, bahkan orang-orang kafir yang menghina-hina keaguangan Islam. Mereka atau bahkan kita lebih senang dengan hal tersebut, lebih setuju dengan perkataan-perkataan orang kafir yang tidak berdasar pada Alqur’an dan Sunnah itu, kita seakan mengganggap orang-orang itu lebih hebat daripada Nabi, orang-orang bijaksana yang harus diteladani... 

Apakah itu yang membuktikan cinta kita kepada Rasulullah? Atau Apakah orang-orang yang shalawatan dengan berjoget-joget ria itu, lalu dengan perbuatan maksiat tersebut adalah bukti cinta kepada Rasulullah? Apakah yang mengumbar-ngumbar auratnya, mengolok-ngolok agama, zalimnya para raja-raja, dustanya para pemuka agama, sistem pemerintahan yang biadab luar biasa, korupsi milyaran juta, tamak akan harta-benda, kemaksiatan ada dimana-mana, memperlakukan wanita dengan semena-mena, apakah itu yg disebut sebagai bentuk cintanya ummat ini kepada Rasulullah? Lalu dimana kebenaran itu ada? Apakah hanya diam menyaksikan tanpa berbuat apa-apa? Apakah kita pantas disebut sebagai ummat yg menyampaikan kebenaran, apakah kita pantas disebut sebagai ummatnya Rasulullah? Sedangkan kita hanya diam dan bungkam tanpa memperjuangkan apa yang dulu diperjuangkan oleh Rasulullah dalam melawan kemungkaran? atau jangan-jangan justru kita sendirilah yang menikmati kemaksiatan tersebut, lalu pantaskah kita dikatakan sebagai ummat-nya Rasulullah yang dirindukannya? 

 Di masa sekarang ini, banyak sekali konten-konten di tiktok, instagram, youtube atau media sosial lainnya terkait mengolok-ngolok agama, menormalisasikan LGBT, senang melihat romantis-nya orang-orang berpacaran, padahal itu adalah bentuk maksiat dan dosa yang dilabeli dengan keindahan, atau saat ini diperindah dengan istilah “Pacaran Islami” yang tujuannya agar saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan sholat, padahal tidak ada istilah pacaran islami dalam islam itu sendiri, jelas itu adalah bentuk perbuatan zina yang nyata, mencampur antara yang bathil dengan yang Haq.

Baru-baru ini juga terkait lagu-lagu kemungkaran yang semakin disenangi oleh banyak orang, lagu “Tuhan Yesus, tidak berubah..” dsb. Banyak orang suka dan senang mendengarkan lagu mungkar tersebut? Padahal jelas Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan: -Sesungguhnya Allah ialah AlMasih putera Maryam-.” (QS. Al-Maaidah [5]: 72) 

Jelas Kafir orang yang mengatakan “Yesus adalah Tuhan dan sebaliknya Tuhan adalah Yesus”, apa bedanya orang yang mengatakan dengan yang mendukungnya. Jikalau kita malah senang dengan lagu mungkar tersebut, itu berarti sama saja kita mendukung dakwahnya kaum Nashrani lewat isi lagu tersebut yang berupa kemungkaran. Padahal yang selama ini Rasulullah perjuangkan adalah menentang kebatilan dan kesyirikan, Kalimat “Laa ilaha illallah” itulah yang dengan keringat darahnya Rasulullah perjuangkan dalam dakwahnya, tetapi mengapa dengan mudahnya kita mengganggap perkara ini adalah perkara yang biasa? Masih pantaskah kita sebut diri kita ini ummatnya Rasulullah? Masih pantaskah kita sebut diri kita ini cinta kepada Rasulullah? Masih pantaskah kita sebut diri kita ini rindu kepada Rasulullah? 

 Ikhwah fillah... 

Sadarlah saudara-saudaraku, kita berada di zaman penuh dengan fitnah, kemaksiatan dan kebathilan. Kita adalah ummatnya Rasulullah, kita harus memantaskan diri kita sebagai ummat yang dicintai dan dirindukan oleh beliau, kita memiliki peran untuk selalu menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran, kita memiliki peran sebagai ummatnya Muhammad untuk meneruskan perjuangan dakwah beliau, dakwah yang Rahmatan lil ‘alamin sesuai dengan pedoman Al-Qur’an dan As-sunnah. Semoga Allah kumpulkan kita di dalam surga-nya nanti bersama Rasulullah tercinta, semoga kita termasuk ummat yang selalu dirindukan oleh beliau. Alangkah indahnya kehidupan nanti, andaikan kita bisa bertemu dengan Rasulullah tercinta. Wallahu a’lam bisshawab

Share:

Review Buku "Analisis Gender dan Transformasi Sosial"

Gambar sampul buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial

Oleh : IMMawati Larasati Sekar Arum dan IMMawati Purwaning Tyas
(Kader PK IMM FKIP UMS 2021/2022)

Buku yang ditulis oleh Mansour Fakih ini banyak menjelaskan banyak hal terkait gender, analisis gender, ketidakadilan sosial, feminisme, dan transformasi sosial secara terperinci. Semua sudah digamblangkan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembacanya. Meski ada beberapa bahasa atau istilah yang memang masih memerlukan bantuan KBBI.

Buku karya Mansour Fakih ini terdapat 192 halaman termasuk daftar pustaka dan latar belakang penulis. Buku bersampul putih ditambah judul lalu terdapat kepalan tangan perempuan di huruf O pada kata ‘sosial’ terlihat sangat artistik dan elegan. Kertasnya pun bukan kertas yang buram sampai tulisan tak terbaca.

Tulisannya masih bisa terbaca. Namun sayangnya, ada beberapa halaman yang terkesan double dalam buku ini. Sehingga menambah halaman yang ada. Jika anda teliti dalam membacanya, maka akan temui halaman yang isinya serupa di buku ini.

Menariknya, buku ini menyajikan beberapa gambaran ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh struktur ekonomi-politik kapitalisme secara rinci. Struktur ekonomi-politik yang kerap membuat kesetaraan gender menjadi timpang.

Menurut Mansour Fakih, persoalannya terletak pada belum banyaknya orang yang tahu menahu serta dapat membedakan antara ‘Gender’ dan ‘Seks’. Kata Gender terdengar asing, sementata kata Seks masih terlalu tabu di wilayah atau di lingkungan masyarakat kita. Dari sini saya akan berikan penjelasan mengenai keduanya. Seks merupakan jenis kelamin atau merupakan biologis dan kodrat dari Tuhan yang tidak dapat dirubah/permanen.

Sedangkan Gender berarti perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat dari Tuhan. Bisa dikatakan juga bahwa gender adalah perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang telah di konstruksi secara sosial. Atau bisa disebut perbedaan yang bukan kodrat dan bukan dari Tuhan. Melainkan diciptakan oleh manusia melalui proses sosial-kultural yang sangat panjang.

Gambaran mengenai perempuan yang lemah lembut, cantik, emosional, keibuan, berperasaan, dll. Begitupun dengan laki-laki yang kuat, rasional, jantan, perkasa dll. Semua itu merupakan bentuk konstruksi dan kultur yang telah dibuat sendiri oleh masyarakat.
Padahal kedua sifat yang katanya sudah menjadi kodrat laki-laki dan perempuan itu dapat tertukar atau dapat ditukarkan. Perempuan juga ada yang kuat, perempuan juga rasional, atau laki laki juga emosional, ada yang lemah lembut juga, nah itu yang dimaksudkan dalam konsep gender. Konsep gender yang selama ini sudah timpang, namun tetap diterima begitu saja oleh masyarakat. Padahal, lama-kelamaan konsep gender yang irasional ini perlahan melahirkan ‘ketidakadilan‘ bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Oleh karena itu, untuk menantang konsep gender yang timpang ini lahirlah antitesis yang mencoba mengembalikan konsep gender yang makin kesini makin irasional itu. Antitesis tersebut yakni Feminisme. Feminisme adalah sebuah teori atau gagasan yang dumulai sejak akhir abad ke-18 dan berkembang pesat di abad ke-20 yang menyuarakan tentang kesetaraan, dan keadilan hak dengan laki-laki.

Ada beberapa jenis atau gagasan teori feminism ini contohnya seperti : feminis liberal, feminis marxis, feminis radikal. Meskipun mempunyai gagasan yang berbeda, tujuan dan maksud adanya gerakan feminisme ini adalah memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak untuk kaum perempuan. Terkhusus permpuan-perempuan dari kelas buruh. Bukan melawan kaum laki-laki atau ingin menindas kaum laki-laki.

Namun lebih kepada memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak perempuan dalam melawan kapitalisme. Tanpa disadari, adanya kapitalisme membuat kaum perempuan dan laki-laki menjadi tertindas dan ketimpangan sosial. Kaum laki laki dan perempuan rela menjadi buruh para kapitalisme dengan mendapatkan upah yang sangat sedikit tak sebanding dengan jam kerja yang telah dilakukan.

Lalu, mengapa judul ini analisis gender dan transformasi sosial?

Melalui buku ini akan dibahas secara habis-habisan mengenai menganalisis gender terlebih dahulu, kemudian muncul gerakan Feminisme yang memperjuangkan dan membela kesetaraan dan hak hak perempuan yang kemudian terjadilah sebuah transformasi sosial yang ada. Selengkapnya bisa di baca buku “Analisis Gender dan Transformasi Sosial” Karya Mansour Fakih ini.

Buku ini sangat di rekomendasikan untuk kaum perempuan yang sedang dalam memperjuangkan kesetaraan, hak hak perempuan, dan menyuarakan tentang pelecehan seksual. Apalagi yang sedang dan baru belajar mengenai hal-hal seputar perjuangan perempuan. Semoga review kali ini dapat menggugah minat pembaca untuk membeli dan membaca buku yang sangat bermanfaat ini.

 


Share:

TPA Ramadhan 1443 H IMM FKIP UMS

Gambar Kegiatan TPA Ramadhan 1443 H 
IMM FKIP UMS 2021/2022

Penulis : Arif Dwi Saputra
Ketua Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat IMM FKIP UMS 2021/2022

Taman Pendidikan Al-Qur'an (disingkat TPA atau TPQ) merupakan lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan nonformal jenis keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran membaca Al-Qur'an sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar dinul Islam pada anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar dan atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) atau bahkan yang lebih tinggi. (sumber Wikipedia)

Selama Ramadhan, IMM FKIP UMS mengajar TPA di Masjid Baitul Qorib yang terletak di Kleco. Kegiatan ini digagas oleh bidang tabligh dan kajian keislaman (TKK) dan bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (SPM). Tempat yang kita tuju, yakni masjid Baitul Qorib merupakan masjid yang direkomendasikan langsung oleh ketua umum IMM FKIP UMS saat ini, IMMawan Achmad Mahbuby. 
Banyak pihak yang terlibat dalam TPA ini, mulai dari kader, pimpinan, alumni imm fkip ums, serta remaja masjid baitul qorib. Anak-anak yang diajar berjumlah dua puluhan, mulai dari TK sampai SD kelas enam. Meski tidak banyak jumlahnya, IMM FKIP UMS tetap antusias dalam mengajarkan bacaan bacaan al quran kepada anak-anak.

Kegiatan ini berlangsung satu bulan selama ramadhan, dan harapannya terus berlanjut hingga kedepannya.
Share:

Semarak Milad ke 58 IMM FKIP UMS

"Berkarya Tanpa Henti Menginspirasi Negeri Melalui Spirit Budaya Ikatan”

Oleh: IMMawan Ahmad Farid Al Azhar
Anggota Bidang Media dan Komunikasi

Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Kota Surakarta menyelenggarakan serangkaian acara dalam rangka memperingati Milad IMM pada bulan Maret 2022. Tema yang diambil adalah“Berkarya Tanpa Henti Menginspirasi Negeri Melalui Spirit Budaya Ikatan”. Acara tersebut diantaranya ialah serangkaian lomba-lomba, dan gebyar budaya. Lomba-lomba yang diadakan terdiri dari lomba badminton, memasak, orasi, essay, dan desain e-poster.  

Rangkaian acara berlangsung selama 12 hari dengan tempat yang berbeda-beda. Persiapan IMM FKIP dari tanggal 14 Maret 2022. Lomba badminton diadakan tanggal 19 Maret 2022. Disusul agenda lomba masak pada tanggal 20 Maret 2022. Lomba orasi dibuka untuk umum. Pelaksaannya pada tanggal 21 Maret 2022. Selanjutnya lomba essay yang diadakan pada tanggal 14-27 Maret 2022. Lomba e-poster sedikit berbeda, diadakan pada tanggal 16-27 Maret 2022. Lomba essay dan Desain e-Poster diakhiri pada tanggal yang sama, karena dari IMM FKIP kolaborasi dengan IMM Azzahrawi. 

Puncak acara, yaitu dilaksanakannya Gebyar Budaya yang pada Sabtu, 26 Maret 2022. Pada acara gebyar budaya ini, bukan hanya dari IMM FKIP saja yang tampil di panggung, tetapi ada beberapa komisariat dan ormawa lainnya yang tampil juga. Seperti Komisariat Al-Ghozali dan Averroes yang menampilkan Akustik, Komisariat Al-Fatih menampilkan drama kolosal, dan HMP PTI menampilkan akustik juga. Sementara itu IMM FKIP menampilkan Tari Indang dan Drama Musikal Kemanusiaan. Atas bantuan Allah SWT dan seluruh panitia yang terlibat, gebyar budaya berjalan lancar, meski persiapan yang dilakukan kurang maksimal.
Share:

Jangan Terburu-buru, Temukan Maknamu!

Oleh: IMMawati Desla Fitriana

Kader PK IMM FKIP UMS


Standar Pendidikan di Indonesia kini telah berubah. Dahulu wajib belajar 12 tahun, yang artinya lulusan SMA merupakan satu hal yang membanggakan. Namun, berbeda dengan sekarang. Banyak orang berbondong-boondong kuliah, bukan karena telah menemukan makna dan tujuan mengapa mereka memutuskan untuk kuliah, tapi kebanyakan mereka hanya mengejar validasi masyarakat.

Kita selalu tahu ingin jadi apa, tapi pada akhirnya kita tak pernah tahu akan jadi apa. Berjuanglah atas apa yang kita inginkan semaksimal mungkin, namun jangan berjuang karena untuk mengejar pengakuan orang lain. Standar penilaian setiap orang berbeda-beda. Kita sungguh akan lelah jika mengikutinya. Alhasil, validasi tak kita dapati, tapi justru kita malah kehilangan makna hidup. Yakinkan pada diri kita bahwa ridha manusia adalah puncak yang tidak akan pernah dapat kita gapai.

Ketika kita tidak kuliah, lantas ada perkataan menyakitkan karenanya. Mungkin sebagian kita mengira, masalah akan selesai ketika kita kuliah. Namun tidak demikian faktanya. Ketika kita menjadi seorang sarjana dan tak kunjung dapat kerja, itu pun akan menjadi masalah baru. Pada akhirnya kita menyadari bahwa kuliah bukan solusi dari permasalahan terkait validasi orang terhadap diri kita.

Banyak orang ingin kuliah di tempat dan jurusan tertentu hanya untuk mendapatkan prestise dan pujian orang lain. Lagi-lagi sebab mengapa kita kuliah terdistorsi oleh validasi orang lain. Ketahuilah, bahwa terkadang di mana kita belajar, tak selalu merepresentasikan diri kita yang sebenarnya. Jangan jadikan diri ini besar karena almamater. Tapi buatlah almamater yang kita gunakan, besar karena diri kita.

Suatu fakta yang menyedihkan memang, banyak orang berambisi dan berlomba-lomba untuk masuk ke perguruan tinggi, namun ketika ditanya mengapa mereka kuliah, banyak yang tak bisa menjawab atau menjawab dengan jawaban-jawaban klise. Membanggakan orang tua? Benarkah orang tua akan bangga jika kita telah menjadi sarjana? Apakah jika kita tidak dapat menjadi sarjana, lantas orang tua kita malu memiliki anak seperti kita?

Jika kita kita menjadi orang tua, memang kita pasti akan bangga ketika anak kita menjadi sarjana. Tapi kita pun akan tetap dan sangat bangga ketika anak kita, tumbuh menjadi anak yang baik, sopan, dan berbakti kepada orang tua, meski bukan seorang sarjana. Kita seringkali membuat alasan yang nampak bijak untuk menutupi gengsi yang sedang kita turuti.

“Mengapa kita kuliah” adalah pertanyaan yang terlalu singkat untuk dikatakan sulit dan terlalu fundamental untuk dijawab. Banyak orang kuliah bak sedang mengikuti lomba lari. Berusaha lulus cepat dan juga menyandang gelar cumlaude. Lulus cepat itu bisa baik, bisa juga buruk. Namun yang terpenting, jangan petik buah sebelum ia benar-benar matang. 

Pada akhirnya kita menyadari bahwa kuliah itu lebih dari sekedar mendapatkan validasi orang, meraih prestise, dan menyelesaikan masalah. Jangan terburu-buru memutuskan untuk kuliah karena tekanan lingkungan, temukan dulu maknamu. Jangan terjebak pada Action Bias, yang beranggapan bahwa melakukan aksi akan lebih berharga ketimbang tak melakukan aksi, meskipun aksi itu tak memberikan manfaat atau dampak positif bagi kita. Ingatlah bahwa kita harus melakukan sesuatu karena kita memang membutuhkannya, bukan hanya sekedar karena kita mampu melakukannya. 

Share:

Yang Terampas Dari Wadas


Desa kami hanya tempat pribumi mengais sisa harapan untuk hidup…

Surga kecil kami hanya untuk secercah senyum tulus di akhir senja yang menangis…

Perlahan, kau cabut andesit itu dari sisa-sisa napas kelaparan kami…

Hingga yang tersisa, hanya derita di sepanjang ajal….

 

Para penjajah berkedok Raja…

Terbitkan surat sana-sini….

Menabung opini pemuas hasrat bengis….

Sial, mereka merapal seolah mereka yang tertindas….

 

Senyum hidup kami kau rampas….

Bahkan raga sudah tak kau nilai lagi harganya…

Lantas kau harap suara kami bungkam?

Tidak! Sebab kebenaran masih membara dalam hati kami!

 

-Solo,08 Maret 2022-

_Fajry Annur

Share:

Tegining Teganang dan Kisah Wadas Melawan


Oleh : IMMawan Lalu Muhammad Ilham Fajri
Ketua bidang hikmah PK IMM FKIP UMS 2021/2022

Harari dalam buku monumentalnya, “Sapiens” menjelaskan bahwa melalui fiksi manusia melangsungkan dan mempertahankan kehidupan serta membangun peradaban. Beragam fiksi diciptakan oleh sapiens, meskipun tak selalu mengerti kebenaran yang ditawarkan oleh fiksi tersebut. Namun, bagi mereka yang mempercayainya, “fiksi” itu bukan dusta sama sekali.

Namun adalah sebuah fakta jika “fiksi” dapat membawa pada suatu kebaikan juga keburukan di sisi lain. Fiksi tentang nasionalisme misalnya yang membuat kita menjadi memiliki satu tulang dan satu darah dalam merah putih. Fiksi tersebut telah lama tertanam dan mencegah pertumpahan darah. Namun disisi lain ada juga fiksi yang membawa dampak buruk. Dalam sejarah penindasan ras misalnya kita mengenal fiksi “kulit putih lebih unggul daripada ras yang berkulit hitam”. 

Fiksi yang dijelaskan Harari bukanlah dalam artian sesuatu yang bersifat khayalan atau rekaan semata. Namun yang menjadi fokus di sini adalah bagaimana hal-hal fiktif tersebut dapat mempengaruhi tindakan-tindakan kolektif manusia. Setiap kelompok manusia dalam rumpun tertentu mesti memiliki fiksi bersama yang membuat mereka merasa memiliki ikatan. Tak terkecuali warga desa Wadas yang telah hidup bersama bertahun-tahun lamanya.

 Tentu warga Wadas memiliki fiksi yang mereka percayai bersama sebagai sesuatu yang menjamin kelangsungan hidupnya dengan bahagia. Dalam berbagai wacana tentang Wadas, digambarkan masyarakat Wadas percaya bahwa alam adalah sumber dari segala kehidupannya. Kebanyakan dari warga Wadas mempertahankan hidupnya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tumbuh subur di desanya. Sehingga bagi mereka, perusakan terhadap alam Wadas sama saja dengan merusak hidup Warga desa tersebut. Bagi warga Wadas hidup harmonis nan indah dengan lingkungan yang tentram dan menghidupkan tentu tak layak ditukar dengan planet mars sekalipun.

Telah bertahun-tahun, pemerintah menawarkan fiksi lain bagi warga Wadas. Pemerintah yang ingin menjadikan Wadas sebagai quarry untuk menambang batu andesit untuk kebutuhan membangun bendungan Bener menawarkan fiksi: warga Wadas akan memperoleh kesejahteraan apabila mengikhlasan pembebasan lahan. Pemerintah juga menjanjikan area penambangan akan direklamasi  dan dijadikan tempat wisata sehingga menjadi lapangan kerja baru bagi warga Wadas.  Dengan berbagai riset para ahli yang disebutkan, pemerintah juga berjanji proyek penambangan ini dilakukan dengan memperhatikan risiko kerusakan lingkungan sehingga warga tak perlu khawatir kehilangan mata pencaharian. Pejabat kenamaan, Pak Ganjar berkelakar, “Uang ganti pembebasan lahan mau dipakai buat beli apa?” ia berharap uang ganti ini dapat digunakan dengan bijak sehingga warga dapat hidup sejahtera. Begitulah Fiksi yang ditawarkan pemerintah, yang menyatakan bahwa proyek ini adalah demi kepentingan bersama.

Namun apakah demikian adanya? Saya kurang tau, sebab itu barulah fiksi yang diawali dengan cerita-cerita ketakutan, penangkapan, pemukulan, atas nama keamanan. Tak heran warga Wadas tak mau menempuh jalan cerita itu, meskipun tawarannya menggiurkan warga Wadas sadar itu menipu. Sebab warga Wadas memiliki fiksi, yang ia yakin lebih membahagian bagi cerita hidupnya.

Namun bagaimana warga Wadas dapat mempertahankan tanahnya, mempertahankan ikatannya dengan rumpunnya, serta mempertahankan fiksinya. Warga wadas adalah masyarakat kecil yang kebanyakan merupakan petani yang hidup dari ladang, kebun, dan hutan wadas. Sedang ia menantang golongan kekuasaan yang tidak lain adalah pemerintah beserta aparat-aparat bersenjatanya. Apa yang dapat menjamin hak-hak warga Wada selain kelantangan suaranya.

Karakteristik warga Wadas yang demikian mengingatkan saya pada masyarakat di kampung halaman saya, Lombok yang sebagian besar warganya juga merupakan petani. Dalam sejarah panjang perjuangan di Lombok, banyak kisah perlawanan petani dan warga kecil terhadap penjajah juga pejabat dan bangsawan yang lupa harga dirinya. Telah banyak kekalahan yang dialami rakyat kecil melawan penguasa, namun masih ada satu yang tersisa yakni suara yang disulut bara. Sebab harga diri tak dapat ditukar bak harga benda. Sebuah kisah dalam lagu tradisional Sasak menggambarkan sikap hidup yang demikian. Lagu tersebut berjudul Tegining Teganang”. Berikut syairnya:

Leq jaman laek araq sopoq cerite

Inaq Tegining Amak Teganang arane

Pegaweane ngarat sampi leq tengaq rau

Sampi sai tekujang kujing leq tengaq rau

Inaq Tegining Amak Teganang epene

Ongkat dengan Tegining Teganang luek cerite

Ngalahin datu si beleq-beleq ongkatne

Artinya:

Pada dahulu kala terdapatlah sebuah cerita

Ibu Tegining dan Bapak Teganang namanya

Pekerjaannya menggembalakan sapi di tengah ladang

Sapi siapa yang dizalimi di tengah ladang

Ibu Tegining dan Bapak Teganang yang punya

Orang bilang Tegining Teganang banyak cerita

Mengalahkan raja yang besar-besar katanya

Melihat apa yang terjadi di Desa Wadas, saya langsung teringat pada lagu Tegining Teganang tersebut. Saya membayangkan Ibu-ibu Tegining yang yang dengan berani duduk dibarisan terdepan berzikir, menyebut nama Tuhannya memohon perlindungan dari nasib-nasib buruk yang mengintainya juga ladang leluhurnya. Juga bapak-bapak Teganang yang bersedia menghadang apa-apa yang mengancam keluarganya.

 Mereka bersetia menjaga kesederhanaan hidup yang amat membahagiakan dan hanya itu yang mereka punya. Demi itulah mereka berjuang. Mereka hanya mempertahankan hak-haknya dan mereka tak pernah ingin ada perpecahan di kampungnya. Oleh sebab itu, tak patutlah mereka diamankan dengan cara-cara kekerasan sebab sudah semula warga Wadas hidup aman. Sangat ironi bagi warga Wadas bahwa mereka diamankan oleh orang-orang yang menyakitinya.


 


Share:

Ini Tentang Kita yang Satu Simpul Dalam Ikatan



 Oleh: IMMawati Fajry Annur, 

kader IMM FKIP 2022


Halo, perkenalkan aku IMMawati Fajry, izin sedikit membagikan kisah tentang Darul Arqam Dasar kemarin, yang menurutku sangat banyak hikmah yang bisa diambil. Tentang rasa kebersamaan dan solidaritas yang kami senantiasa junjung, tentang kesederhanaan yang senantiasa kami syukuri.

Sambi, Boyolali 10 Februari 2022, adalah hari yang membuatku sedikit membuat perasaanku campur aduk, di mulai dengan drama pakaian yang mau di bawa ke pelatihan berapa aja yah? Bawa bekal atau makan dulu aja? Eh, sampai pada saat kumpul di kom pun saya drama dulu dengan mamang grab, yang ternyata saya salah atur lokasi kampusnya haha, Alhamdulillah untung bapaknya baik. Sesampainya di komisariat IMM ternyata sudah banyak sekali teman-teman yang menunggu, saya jadi tidak enak karena terlambat, tapi saat stadium general masih ada yang lebih terlambat dari pada saya.

Saat stadium general sendiri, sebenarnya saya mempunyai pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada pemateri, tapi karena waktu yang terbatas akhirnya urung saya tanyakan. Tapi, tak masalah, ada perjalanan panjang yang akhirnya membuat saya mengerti secara perlahan, dan pelan-pelan menjawab tanya saya selama ini.

          Perjalanan pun kami mulai, dengan bus yang sangat sederhana dan panas itu, saya pikir rasa-rasanya seperti mengantar rombongan pengantin haha, soalnya music yang distell lagu jawa khas buat acara pengantin haha, saya sama diva pun saling melirik, yah mengertilah maksudnya apa.

Selama perjalanan saya tertidur, tapi tidak pulas, dan itu yang membuat kepala saya sakit saat sampai, rasa mengantuk yang mengganjal dan rasa lapar yang hampir tak tertahan lagi, bercampur jadi satu. Kami pun transit di sebuah masjid, yang nantinya menjadi tempat sangat sacral bagi kami semua.

Petang berlabu dengan khidmat, diiringi suara tokek, sapi dan kambing yang kadang sahut-sahutan, kami ditempatkan di rumah sederhana, beralaskan karpet, kadang-kadang tanahnya masuk saking seringnya kami bergerak-gerak. Rasanya saya ingin sekali mengeluh, sebab tempat perkaderannya sangat jauh dari ekspektasi saya, saya kira akan ditempatkan di sekolah, ternyata di sebuah rumah sederhana yang kemudian menjadi saksi perjuangan kami selama beberapa hari ke depan. Tapi, entah kenapa, saya teringat dengan perkataan mama saya, bahwa apa pun yang kamu dapatkan, harus disyukuri, dan yah, itu adalah pelajaran pertama yang saya dapatkan, Bersyukur!

Malam pertama itu, kami makan nasi-sayur dengan kerupuk, saya agak kurang senang dengan beberapa teman-teman yang mengomentari masakan itu. Tapi, saya menarik pikiran saya, mungkin saja mereka tidak atau bahkan belum pernah mendapat makanan yang seperti itu, tapi yah tetap harus kita syukuri kan?

Pada malam hari itu pula, kami disodorkan dengan kalimat “Menolak Tunduk dan Bangkit Melawan, Karena Diam Adalah Kehancuran dan Mundur Adalah Pengkhianatan”. Kata itu yang kemudian menimbulkan sekelumit tanya pada diri kami semua. Berbagai penafsiran muncul. hingga saya dan kami semua pun mengetahui maknanya di kemudian hari.

Seusai tahajjud, saat kemudian melakukan deep talk, saya tahu satu hal malam itu, saya menjadi orang yang membohongi diri saya. Makna ‘rumah’ yang selama ini saya anggap, ternyata bukan itu definisi sebenarnya. Tapi, apakah saya lantas menolaknya mentah-mentah? Tentu tidak, saya menyadari kesalahan saya, saya menyadari kepura-puraan saya, saya menyadari bahwa saya berpura-pura atas diri saya sendiri. Saya seperti seorang penakut yang sangat takut untuk dikecewakan. Pengalaman mengajarkan saya tentang kekecewaan yang begitu besar, hingga kemudian saya terlihat pura-pura menerima, padahal dalam diri, saya bergelud dengan berbagai macam emosi.

Menerima tapi tidak menerima

Jadikan itu menerima dan menerima.

Sejak malam itu, saya tersadar, bahwa kekecewaan tidak boleh berlarut, hidup harus maju. Jika kita tak percaya siapa pun, maka tugas kita hanya satu, yaitu mencoba untuk percaya lagi. Mungkin terdengar munafik, tapi yah, inilah hidup, manusia tidak bisa lepas dari kesalahan, sebaik dan sesempurna apapun mereka. Sama seperti saya.

Hari-hari berlanjut seperti biasa, saya senang sekali ketika setelah materi ada diskusi kelompok bersama (FGD) di situ saya bisa melihat teman-teman saya yang sebenarnya aktif tapi pada saat materi kebanyakan diam, di situ saya berpikir, apa mereka malu? Apa mereka tidak percaya diri karena melihat teman-teman yang lain aktif bertanya, dari situ saya kemudian melihat porsi diri saya dalam menanyakan beberapa hal kepada pemateri, saya mencoba menahan pertanyaan saya dan memberikan ruang kepada mereka yang ingin bertanya, karena rasanya saya menjadi orang yang egois kalau bertanya terus haha. But, saya mencoba tetap aktif.

          Bagi saya, Darul Arqam Dasar kemarin bukan sekadar memberikan ilmu materi saja, melainkan yang saya rasakan pribadi, justru pelajaran yang paling banyak saya ambil adalah dari pengalaman, yah seperti yang filsafat empirisme katakana, bahwasannya ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman haha. Berbicara soal filsafat yang bagi saya terdengar rumit dan membuat otak terpelintir itu nyatanya menyenangkan juga haha.

Hari-hari berlalu, makanan, air minum, pertemanan, solidaritas, kekompakan, keegoisan, menyatu dalam satu wadah. Di sini, saya paham akan makna bersyukur dan tidak mementingkan diri sendiri. Kebebasan kita terbatas karena kebebasan orang lain. Ini bukan tentang siapa yang paling cerdas dan mampu akan semua materi. Bagi saya, ini tentang pelajaran menerima dan mengerti. Saya teringat kata-kata mas IOT. Bahwa “IMM sudah kebanyakan orang pintar, tetapi masih kurang dalam aksi”. Kurang lebih seperti itu. Yah, itu menyadarkan saya, bahwa apa gunanya saya belajar materi selama lima hari empat malam, jika dalam mengerti dan membantu teman se-perkaderan saya saja, saya tidak bisa. Dalam DAD itu bukan tempatnya pamer ilmu pengetahuan, tapi tempat di mana saling merangkul dan mengembangkan wawasan. Bukan ajang untuk unggul-unggulan diri.

Hari-hari berlanjut, tiba pada malam kami dikukuhkan sebagai kader, jujur saya terharu, melihat kembali perjuangan kami selama beberapa hari terakhir. Saat azan itu berkumandang, rasanya seperti ada sesuatu yang bergetar dalam hati saya. Saat Hymne itu dilantunkan semakin bertambah semangat saya untuk berjuang dalam satu ikatan. Karena kami bukan dua puluh lima orang, kami adalah satu!

Fastabiqul Khairat!


 

Share:

Demokrasi, propaganda media, dan bagaimana kita bisa merdeka darinya

 


Resensi Buku Politik Kuasa Media

Sumber gambar: https://www.goodreads.com/book/show/17879769-politik-kuasa-media

Oleh: Lalu Muhammad Ilham Fajri

Ketua Bidang Hikmah PK IMM FKIP UMS 2021/2022


Bagi kita mahasiswa, kata demokrasi adalah makanan ringan yang sangat sering kita konsumsi baik itu di bangku pendidikan ataupun di televisi juga di meja-meja kopi. Tiap membicarakan demokrasi, masing-masing penduduk majelis diskusi bisa memaknai demokrasi dengan makna yang berbeda-beda. Ada yang memaknainya sebagai sistem politik, kebebasan, hak berusara, dan lain-lain. Namun dengan postulat yang lebih sederhana kita tentu sepakat bahwa demokrasi sebagaimana selogannya merupakan usaha “dari rakyat, demi rakyat dan untuk rakyat”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah ini dimakani menjadi “bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat”.

Noam Chomsky, seorang linguis kenamaan abad 20 ini juga mempersoalkan perkara demokrasi. Chomsky setuju bahwa memang demokrasi menyediakan ruang bagi rakyat untuk mengatur kesejahteraannya melalui hak bersuara yang dimilikinya. Di samping itu, sistem demokrasi ini memungkinkan adanya kebebasan dan keterbukaan. Namun, Chomsky juga menaruh kecurigaan yang amat besar pada sistem demokrasi. Dalam bukunya berjudul “Politik Kuasa Media”, ia menekankan bahwa tidak cukup memahami demokrasi dari makna kamus. Sebab ada makna lain yang sebenarnya tumbuh seiring berjalannya demokrasi. Makna lain itu oleh Noam Chomsky dijelaskan bahwa demokrasi yang berjalan bisa jadi sangat berkebalikan dengan makna demokrasi yang selama ini kita pahami. Demokrasi dalam kenyataannya dapat kita lihat sebagai sistem yang berusaha menina bobokan rakyat, serta menjaga agar rakyat tidak bangun dan mau ikut campur akan urusan pemerintahan. Hal ini dilakukan untuk kepentingan kaum “empunya” kekuasaan. Agar kondisi ini tetap terjaga, dikerahkanlah kaum-kaum intelektual dalam dunia politik ataupun media massa melalui berbagai bentuk propaganda..

Rakyat yang tak tahu apa-apa tak lebih dari sekedar kaum pandir yang digembalakan melalui warta berita di media ataupun iklan-iklan hidup bahagia. Bagaimanapun caranya, kaum ini harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari kenyataan apa yang sebenarnya kaum empunya dan intelektual-intelektualnya rencanakan. Sebab demokrasi yang dijalankan tak selamanya berorientasi pada kepentingan rakyat. Ada kondisi di mana mereka yang memegang kuasa harus mengorbankan kepentingan rakyatnya.

Rekayasa persepsi adalah cara yang ampuh untuk menjaga demokrasi berjalan sebagaimana mestinya (menurut kepentingan yang berkuasa). Maka bak lagu Rekayasa Cinta milik Camelia Malik, “ Kalau cinta sudah di rekayasa/ dengan gaya canggih luar biasa/rindu buatan, rindu sungguhan/ susah dibedakan”. Media massa adalah pedang bermata dua dalam demokrasi, di satu sisi ia semestinya dapat membuka informasi agar masyarakat paham dan dapat turut andil mengurusi kebutuhannya. Namun di sisi lain, media massa juga dapat digunakan untuk menutupi mata jalang pelaku skandal-skandal politik yang haus harta dan kekuasaan. Skandal-skandal ini harus disensor dari pengelihatan dan pendengaran rakyat. Jika tidak, tentu akan jadi kekisruhan besar-besaran.

Propaganda merupakan serangkaian pesan yang dimainkan untuk mempengaruhi persepsi dan tindakan masyarakat. Propaganda dilakukan dengan harapan bahwa presepsi dan tindakan masyarakat sesuai dengan apa yang pelau propaganda harapkan. Chomsky mencontohkan ketika ada demonstrasi besar-besaran di Pensylvenia, pemerintah tidak mengatasi demonstrasi itu melalui cara-cara kekerasan, melainkan dengan memainkan propaganda. Caranya dengan membuat berbagai wacana yang mengubah presepsi masyarakat tentang aksi demonstrasi. Mereka yang semula semangat berdemonstrasi dibuat menjadi sangat membenci demonstrasi. Disebarkanlah wacana-wacana yang mengatakan bahwa demonstrasi dengan kekisruhan dan kata-kata kasar yang ada di dalamnya adalah wujud perbuatan yang tidak beradab lagi terhormat. Diaykinkanlah bahwa demonstrasi bukanlah cara untuk orang-orang terhormat seperti orang-orang Amerika.

Begitu canggih industri propaganda yang di miliki Amerika demi menjalankan hasrat oportunis yang dimilikinya. Sebagaimana pesan Remy Sylado dalam lagunya berjudul Sersan Tukiman; bahkan dengan jargon “demi kemanusiaan” tak tanggung-tanggung juga mereka membunuh jutaan manusia dengan perang. Perang Vietnam dan perang teluk dicontohkan Chomsky untuk menggambarkan kepiawaian Amerika dalam propaganda. Amerika berusaha merekayasa keadaan dengan memelintirkan sejarah agar seolah-olah mereka menjadi pahlawan atas perang yang diletuskannya. Amerika berusaha agar seakan-akan ketika menyerang dan menghancurkan satu pihak, akan terlihat sebagai bentuk melindungi dan mempertahankan diri. Misal, jika Amerika menghujani Vietnam selatan dengan bom, itu berarti Amerika sedang mempertahakan Vietnam selatan dari suatu pihak. Taruhlah orang Vietnam selatan itu sendiri karena tidak ada orang lain disana.

 Cara-cara yang demikian, sesekali perlu dilakukan apabila acara sepak bola atau komedi di televisi tidak lagi mampu mengalihkan perhatian rakyat pada kondisi sosial dan ekonomi Amerika yang semakin memburuk. Dengan menciptakan musuh bersama, maka perhatian rakyat akan terfokus ke arah itu. Dengan demikian rakyat tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Terorisme yang selalu digambarkan berpenampilan bak Osama Bin Laden ataupun Saddam Hussein menjadi musuh bersama yang kerap dimainkan Amerika. Tragedi 9/11 dengan berbagai konspirasi di baliknya telah menimbulkan keparnoan yang luar biasa bagi masyarakat Amerika terhadap hal-hal yang berbau Arab dan Islam. Keparnoan itu yang kini kita kenal dengan islamophobia dan tidak hanya terjadi di Amerika namun juga menyebar di Indonesia. Islamophobia ini menjadi  virus yang menyebar melalui berbagai media massa selain virus sebelumnya red scare (ketakutan terhadap komunisme) yang efeknya tak semenakutkan dulu.

Namun tak dapat dipungkiri satu dua intelektual bisa tumbuh di kalangan rakyat, mereka mengoreksi besar-besaran atas segala jalannya pemerintahan yang buruk. Dalam demokrasi yang ideal tentu hal ini dipandang baik dalam menjaga girah dan nalar berdemokrasi. Namun kenyataannya demokrasi tak berjalan ideal, dan tentu sebaliknya intelektual yang berseru atas hak-hak rakyat itu dipandang ibarat kutil yang harus segera “diobati” dan dijaga agar tidak menyebar.Hasil pemikiran dari kelompok intelektual yang berpihak pada rakyat ini sebisa mungkin tidak menyebar. Rakyat yang memiliki keresahan yang sama atas pemerintah, sebisa mungkin tidak bersatu dan menyatukan pikiran. Sebab ini bisa sangat mengancam. Begitulah demokrasi dijalankan di mana tujuan utamanya bukan lagi demi rakyat melainkan demi urusan materiel: harta dan kekuasaan. Dalam demokrasi yang seperti ini, rakyat bisa jadi pengganggu; apalagi kalau rakyat sudah berpikir, bersatu dan berserikat. Pada 1935 gerakan Wagner Act membuat kaum buruh berhasil menduduki kursi legislatif. Bagi kaum empunya kekuasaan dan kekayaan, tentu hal ini merupakan penyimpangan dari demokrasi dan hal ini tidak boleh diulang.

Maka dari itu presepsi masyarakat harus tetap di kontrol melalui media massa. Berita tentang keburukan pemerintah harus ditutupi dan prestasinya harus diangkat. Musuh-musuh baru diciptakan untuk menutupi narasi-narasi yang menyasar rencana buruk pemerintah. Dan inilah ajaibnya propaganda. Kritik Chomsky ini sebenarnya tak hanya berlaku di Amerika melainkan kita juga bisa menggunakannya untuk melihat kenyataan politik di negara +62 atau dalam miniaturnya di student goverment (pemerintahan mahasiswa). Lantas apakah kita akan percaya pada warta berita di media?

Sebagai mahasiswa di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, tentu saya percaya bahwa pendidikan adalah salah satu jalan tol untuk melewati ini. Institusi pendidikan tak cukup hanya memproduksi intelektual, melainkan seharusnya memproduksi intelektual yang mampu berpikir bebas dan terbuka untuk menemukan kebenaran. Sehingga dengan kebebasannya itu, ia bisa membebaskan rakyat dari penindasan, kemiskian, kebodohan yang tersusun secara sistematis dalam sistem demokrasi yang korup.

Setelah membaca buku “Politik Kuasa Media” milik Noam Chomsky ini, saya teringat pada Allegory of Cave karya Plato yang saya kira dapat digunakan sebagai landasan pandangan kita mengenai pendidikan. Dalam kisah ini, Plato membagi dunia menjadi dua sisi yakni dunia di dalam gua yang gelap dan dunia di luar gua yang bermandikan cahaya. Barangkali kita adalah golongan manusia yang hidup terpasung di dalam gua sejak kecil, dan kita hanya bisa melihat kehidupan dari bayang-bayang yang muncul dekat mulut gua. Kita melihat bayang-bayang itu bergerak dan seolah-olah hidup dan kita memandang bahwa bayang-bayang itu adalah realitas sebenarnya.

Namun suatu waktu salah satu dari tahanan gua itu (katakanlah itu Kamu)  berhasil bebas dari belenggu dan perlahan berjalan mendekati mulut gua. Begitu keluar dari gua Kamu langsung diterpa masalah, yakni tak terbiasa dengan cahaya. Namun lambat laun Kamu berhasil beradaptasi dengan cahaya dan melihat kehidupan yang sebenarnya terjadi di luar gua. Lalu Kamu berkata, “oooh jadi ini yang terjadi sebenarnya”, lalu dengan pengetahuan itu Kamu kembali ke dalam gua lalu menceritakannya pada kawan-kawanmu yang masih terpasung di sana. Namun sayangnya mereka tidak percaya sebab mereka kadung nyaman dengan kehidupan dan segala realitas di dalam gua. Mereka pun memilih tinggal di sana dan enggan dibebaskan.

Pesan yang bisa kita tarik dari kisah yang ditulis Plato dalam Republika ini adalah bisa jadi realitas yang kita yakini sekarang bukanlah realitas sebenarnya. Bisa jadi realitas yang digambarkan dalam media massa hanyalah rekayasa penguasa. Bisa jadi kitalah orang-orang yang selama ini hidup di dalam gua dan percaya pada bayang-bayang semata.

Maka dari itu, saya kira sudah saatnya kita membebaskan diri dari belenggu kenyamanan. Sudah saatnya kita dengan berani mendaki gua, melangkah menuju cahaya. Agak sulit memang, menempuh jalan menemukan kebenaran. Butuh tenaga lebih agar tidak limbung, saat cahaya yang silau membuat kita linglung. Ada keraguan dan ada kebingungan yang turut mengikuti jejak kita, sampai lambat laun kita berhasil melakukan penyesuaian dengan kebenaran yang ada. Itulah proses belajar yang mesti kita jalani seiring kita menjadi dewasa. Dengan

 Begitulah semestinya pendidikan yang semestinya kita jalani, sebab kita tak dapat terbebas dari hidup yang fana. Namun perjalanan untuk menemukan kebenaran yang lebih hakiki, keabadian ada di sana.

Share:

Popular

Labels

Recent Posts

Label Cloud

About (2) Agenda (8) Artikel (21) bidang hikmah (1) Bidang Immawati (1) Bidang Kader (1) bidang SPM (1) BTKK (2) buletin (2) Data Base (1) ekowir (1) galeri (5) Immawan (2) Immawati (9) Informasi (8) islam (2) Kajian (1) MAKALAH (2) Opini (15) Organisasi (2) Profil (1) Puisi (4) Resensi (6) Review (1) struktur (1) Tabligh (2)

QOUTES

Tidak akan ada kebenaran yang muncul di kepala, bila hati kita miskin akan pemahaman terhadap ajaran agama Allah.
-KH.Ahmad Dahlan