HUKUM DEMONSTRASI / AKSI / MASIROH

HUKUM DEMONSTRASI / AKSI / MASIROH

Penting banget di baca bagi tmen’ pergerakan maupun yang pingin tau hukum aksi dari dudut pandang islam.

secara umum dalil tentang masiroh (atau sering disebut demonstrasi) didasarkan pada dalil-dalil amar makruf nahi munkar. Nasihat adalah hak setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga para penguasa. Artinya, mereka mempunyai hak untuk dinasihati. Sebaliknya, nasihat menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf, tatkala menyaksikan kemungkaran atau kezaliman yang dilakukan oleh orang lain; baik pelakunya penguasa maupun rakyat jelata. Inilah yang dinyatakan dalam hadis Nabi saw.:

"Agama adalah nasihat; untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, dan orang-orang awam." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, nasihat sebagai upaya mengubah perilaku mungkar atau zalim orang lain, baik penguasa maupun rakyat jelata, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konteks dakwah bil lisan (melalui lisan maupun tulisan), sebagaimana sabda Nabi saw.:

"Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangan-nya. Jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu, hndaknya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR Muslim).
Jenis kemungkaran yang hendak diubah, dilihat dari aspek bagaimana pelakunya melakukan kemungkaran tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua:

Pertama, kemungkaran yang dilakukan secara diam-diam, rahasia, dan pelakunya berusaha merahasiakannya. Kedua, kemungkaran yang dilakukan secara terbuka, demonstratif, dan pelakunya tidak berusaha untuk merahasiakannya; justru sebaliknya, malah menunjukkannya.
Jenis kemungkaran yang pertama tentu berbeda dengan kemungkaran yang kedua. Orang yang tahu perkara tersebut hendaknya menasihatinya secara diam-diam dan kemungkaran yang dilakukannya pun tidak boleh dibongkar di depan umum; justru wajib ditutupi oleh orang yang mengetahuinya.

Nabi saw. bersabda:
"Siapa saja yang menutupi satu aib, maka (pahalanya) seolah-olah sama dengan menghidupkan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya." (HR Ibnu Hibban).

Berbeda dengan jenis kemungkaran yang kedua, yaitu kemungkaran yang dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Dalam kasus seperti ini, pelaku kemungkaran tersebut sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri dengan kemungkaran yang dilakukannya. Untuk menyikapi jenis kemungkaran yang kedua ini, sikap orang Muslim terhadapnya dapat dipilah menjadi dua: Pertama, jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut pengaruhnya terbatas pada individu pelakunya, dan tidak mempengaruhi publik, maka kemaksiatan atau kemungkaran seperti ini tidak boleh dibahas atau dijadikan perbincangan. Tujuannya agar kemungkaran tersebut tidak merusak pikiran dan perasaan kaum Muslim, dan untuk menjaga lisan mereka dari perkara yang sia-sia; kecuali jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya orang fasik yang melakukan kemaksiatan tersebut.

Kedua, jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada individu pelakunya, sebaliknya telah mempengaruhi publik, misalnya seperti kemungkaran yang dilakukan oleh sebuah institusi, baik negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu. Kemaksiatan atau kemungkaran seperti ini justru wajib dibongkar dan diungkapkan kepada publik agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut. Inilah yang biasanya disebut kasyful khuthath wal mu’amarah (membongkar rancangan dan konspirasi jahat) atau kasyful munkarat (membongkar kemungkaran).

Ini didasarkan pada sebuah hadis penuturan Zaid bin al-Arqam yang mengatakan, “Ketika aku dalam suatu peperangan, aku mendengar Abdullah bin Ubay bin Salul berkata, ‘Janganlah kalian membelanjakan (harta kalian) kepada orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah, agar mereka meninggalkannya. Kalau kita nanti sudah kembali ke Madinah, pasti orang yang lebih mulia di antara kita akan mengusir yang lebih hina.’ Aku pun menceritakannya kepada pamanku atau Umar, lalu beliau menceritakan-nya kepada Nabi saw. Beliau saw. pun memanggilku dan aku pun menceritakannya kepada beliau.”

Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay dan diketahui oleh Zaid bin al-Arqam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw., adalah kemungkaran (kemaksiatan) yang membahayakan kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, bukan hanya diri pelakunya. Abdullah bin Ubay sendiri ketika ditanya, dia mengelak tindakannya, yang berarti masuk kategori perbuatan yang ingin dirahasiakan oleh pelakunya. Akan tetapi, tindakan Zaid bin al-Arqam yang membongkar ihwal dan rahasia Abdullah bin Ubay tersebut ternyata dibenarkan oleh Nabi saw. Padahal seharusnya tindakan memata-matai dan membongkar rahasia orang lain hukum asalnya tidak boleh. Perubahan status dari larangan menjadi boleh ini menjadi indikasi, bahwa hukum membeberkan dan membongkar rahasia seperti ini wajib, karena dampak bahayanya bersifat umum.

Karena itu, tindakan mengkritik kebijakan zalim atau mungkar yang dilakukan oleh penguasa, baik secara langsung ketika berada di hadapannya maupun tidak langsung, misalnya melalui tulisan, demonstrasi atau masiroh, bukan saja boleh secara syar‘i, tetapi wajib. Kewajiban ini bahkan pahalanya dinyatakan sebanding dengan pahala penghulu syuhada, yaitu Hamzah bin Abdul

Muthallib, seperti dalam hadis Nabi saw.:
"Penghulu syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya." (HR al-Hakim).

Apa yang dilakukan oleh para Sahabat terhadap Umar dalam kasus pembatasan mahar atau pembagian tanah Kharaj hingga kain, secara terbuka di depan publik adalah bukti kebolehan tindakan ini. Memang, ada pernyataan Irbadh bin Ghanam yang mengatakan, “Siapa saja yang hendak menasihati seorang penguasa, maka dia tidak boleh mengemukakannya secara terbuka, tetapi hendaknya menarik tangannya dan menyendiri. Jika dia menerimanya maka itu kebaikan baginya; jika tidak, pada dasarnya dia telah menunaikannya.” Akan tetapi, pada dasarnya pernyataan tersebut tidak menunjukkan adanya larangan mengkritik atau menasihati penguasa di depan publik; ia hanya menjelaskan salah satu cara (uslub) saja.

Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa menasihati penguasa atau mengkritik kebijakan penguasa yang zalim, termasuk membongkar kemungkaran atau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslim hukumnya wajib, hanya saja cara (uslub)-nya bisa beragam; bisa dilakukan langsung, dengan bertemu face to face; atau secara tidak langsung, dengan melalui tulisan, surat, demonstrasi atau masiroh. Melakukan upaya dengan lisan—termasuk melalui tulisan, seperti surat terbuka, buletin, majalah, atau yang lain—baik langsung maupun tidak, jelas lebih baik ketimbang upaya bil qalb (dengan memendam ketidaksukaan), apalagi jika tidak melakukan apa-apa, sementara terus mengkritik orang lain yang telah melakukannya.
Share:

Pelangi Senja


Pelangi Senja
-Karya Istiqomah Noor Fajri-

Sebuah cerita -hanya cerita, bukan cerpen- yang terinspirasi dari kisah nyata. Sekali lagi, hanya terinspirasi. Persamaan tokoh, latar maupun kejadian mungkin memang sebuah kesengajaan...

Adi, begitulah orang-orang memanggilnya. Seorang anak laki-laki yang luar biasa hebat. Kecerdasannya sudah menjadi perkiraan orang-orang sejak ia masih balita. Dan itu terbukti seiring berjalannya waktu masa pertumbuhannya. Tak hanya kecerdasannya, kekuatannya dalam menghadapi cobaan hidup begitu luar biasa, bahkan senyumnya bisa membuat orang lain menangis terharu. Ujian ketika dia ditinggal oleh ibunya karena penyakit mematikan, kanker. Dimana dia harus berusaha tegar dengan menghadirkan senyum disetiap tangis ayah dan kakak-kakaknya. Ujian ketika perekonomian keluarga mulai melemah. Dan masih banyak ujian lainnya yang membuatnya semakin kuat.
Dinda, seorang gadis manja yang keinginannya harus dituruti. Seorang gadis yang mudah menangis ketika apa yang ia miliki hilang atau pergi. Seorang gadis yang begitu menggemari boneka mickey mouse. Seorang gadis yang selalu ingin menjadi anak kecil, dan begitu sensitif dengan kata “dewasa”. Dinda bukanlah saudara kandung Adi. Mereka hanya sebatas sepupu. Namun hubungan mereka seperti saudara kandung. Begitu sayang dan perhatiannya Adi kepada Dinda. Selalu memanggilnya dengan panggilan kesayangan, “Nduk”. Ya, begitulah semua sepupu Dinda memanggilnya. Karena dari 14 cucu eyangnya, Dinda adalah satu-satunya cucu perempuan yang sangat disayang. Mungkin itulah kenapa Dinda tumbuh menjadi gadis yang sangat manja.

“Alhamdulillah mas masuk UNNES, nduk. Diterima di progdi PGSD. Terima kasih untuk doa dari adikku tersayang ini.”

Adi memang anak terakhir dari 4 bersaudara. Jadi tak heran, sayangnya pada Dinda begitu luar biasa besar. Karena dia tak memiliki adik kandung.

“Waah... Alhamdulillah mas. Ntar aku nyusul mas ah. Tapi aku masuk Bahasa Inggris aja. Biar bisa ke Luar Negeri. 2 tahun lagi aku nyusul mas.”

Adi adalah seorang aktivis di kampusnya. Entah seperti apa perjuangannya di kampus itu, hanya orang-orang yang berjuang bersamanya yang mampu menceritakan kisah itu. Bukan Dinda, karena yang ia tahu hanyalah menunggu kepulangan Adi dari Semarang ke Solo tiap bulan sekali. Selalu menyempatkan berkunjung ke rumah Dinda, bermain bersama kakaknya dan keluarga yang lain, selalu berpamitan dengan simbah ketika hendak kembali ke Semarang, dan rutinitas lain yang tanpa cerita berarti.
Berbeda dengan cerita mereka waktu kecil, cerita saat mereka masih suka bermain ke sawah, mencari ikan, bermain layang-layang, panjat pohon belimbing yang masih tumbuh sampai sekarang, dan bahkan untuk pertama kalinya, mereka menanam pohon pepaya bersama.

 “Nduk, ayo tanam pohon ini. Satu pohon untukmu, satu pohon untuk mas. Kita lihat pohon siapa yang akan tumbuh lebih dulu”

Begitulah masa kecil mereka. Hingga beberapa tahun terlewati seiring tumbuhnya pohon pepaya itu. Pohon yang mereka tanam bersama di rumah simbah. Pohon yang buahnya bisa dinikmati keluarga besar mereka. Pohon yang selalu punya cerita indah.

“Punya mas pohonnya lebih tinggi. Huh... Aku kalah deh...” rengek Dinda
“ Gak papa Nduk. Yang penting kan berbuah. Syukuri aja. Hehehe...”

Masa SMA dilewati Dinda tanpa Adi. Sebuah SMA negeri yang cukup bagus di kota itu. Masa dimana Dinda menemukan cinta pertamanya. Masa dimana Dinda menemukan banyak pengalaman luar biasa yang membuatnya sedikit berfikir tentang kedewasaan. Ikut organisasi sejak SMP tidak membuatnya kaget ketika harus terjun di dunia aktivis, seperti ROHIS, hingga pramuka. Organisasi yang menorehkan cerita-cerita indah dalam hidupnya. Dimana dia mulai mengenal orang-orang hebat dan orang-orang yang tak ada hubungan darah dengannya menjadi keluarga yang begitu menyayanginya. Sahabat yang selalu menjaganya dan tak pernah membiarkannya menangis.

“Mungkin sudah waktunya aku mulai berfikir tentang kedewasaan. Ya, aku harus berubah.”

Memang sulit menuliskan cerita dan kisah hidup Adi dan Dinda. Kisah yang terlalu panjang untuk ditulis dalam lembaran-lembaran kertas. Singkat cerita, waktu berlalu hingga tiba pada suatu malam yang tak kan pernah Dinda lupakan. Malam yang lain dari malam-malam sebelumnya. Dimana malam itu Dinda ingin tidur lebih awal dari biasanya. Mungkin hari itu hari yang cukup melalahkan. Ba’da isya’ dia sudah menyiapkan tempat tidurnya untuk sejenak memejamkan mata hingga pagi.
Namun, tiba-tiba suara teriakan Wahyu, kakak kandung Adi, mengagetkannya hingga terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit.

“Bulek, Bulek...” Begitulah Wahyu memanggil ibu Dinda
“Ada apa, Wahyu? Malam-malam kok teriak kayak gitu. Nggak enak didengar tetangga.”
“Adi, Bulek... Adi...” Tangis begitu saja membanjiri pipi Wahyu
“Adi kenapa?”
“Adi kecelakaan ba’da magrib tadi di Boyolali.” Tangisnya semakin menjadi-jadi
“Astaghfirullah.. Dari mana kamu tahu berita itu?”
“Tadi polisi datang ke rumah dan mengabarkan berita itu.” Wahyu mulai tenang untuk bercerita.
“Terus, gimana keadaan Adi? Dirawat dimana? Apanya yang sakit?”
“Kata polisi, Adi....” Wahyu terdiam sejenak.
“Adi kenapa...??? Apa parah kondisinya?”
Air mata Wahyu semakin deras
“Adi meninggal...”

Dinda yang sejak tadi mendengarkan cerita Wahyu dari balik pintu kamar hanya terdiam. Seolah tak percaya dan berharap dia terbangun dari mimpi buruk ini. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dia rasakan. Pikirannya entah pergi kemana. Membayangkan semua kenangannya bersama Adi. Membayangkan hari-hari berikutnya yang akan ia lewati tanpa Adi, tanpa tutur lembutnya, tanpa senyumnya, dan tak kan mampu lagi mengukir cerita-cerita indah bersama Adi.
Pohon pepaya yang ia tanam bersama Adi juga telah mati satu. Milik Dinda yang mati, dan milik Adi masih tumbuh hingga kepergian Adi menghadap Sang Maha Pencipta. Yah, pohon itu selalu punya cerita. Cerita yang tak mampu ia ukir lagi bersama Adi.
Dengan langkah kaki yang begitu lemah, perlahan Dinda berjalan menghampiri Ibunya dan Wahyu. Memeluk erat sang ibu dengan air mata yang masih mengalir, tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Wahyu juga masih terduduk lemas di depan pintu. Hening, hanya suara tangis yang terdengar di malam yang gelap itu. Malam yang akhirnya memberikan cerita terakhir Adi bersama orang-orang yang sangat mencintainya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Dinda tidak memejamkan matanya dalam tidur yang lelap. Menunggu, adalah satu-satunya hal yang bisa Dinda lakukan saat jenazah dijemput dari sebuah rumah sakit di kota Boyolali. Keluarga, sahabat dan orang-orang yang pernah mengukir cerita bersamanya mulai membanjiri rumah Adi. Rumah yang akhirnya dia tinggalkan.

“Awalnya Adi udah dilarang pulang malem. Tapi dia nekad. Katanya pengen ketemu orang-orang rumah. Habis sholat magrib di Boyolali, dia jatuh. Terlindas bus karyawan. Adi meninggal di tempat. 2 bulan dia nggak pulang. Padahal besok dia mau dapat beasiswa.” Begitulah Wahyu menceritakan kejadian itu.

Ya, seperti yang orang-orang ketahui tentang kecerdasan Adi. Tidak heran beasiswa itu ia dapatkan. IP lebih dari 3,8 menjadi bagian dari prestasi yang ia raih. Sekolah-sekolah terbaik di kota itu menjadi saksi perjuangannya dan hanya meninggalkan cerita saja.
Akhirnya mobil jenazah itu tiba dengan membawa sesosok manusia yang dinantikan kedatangannya oleh Dinda dan semua orang yang menemaninya. Sesosok manusia yang masih tetap tersenyum saat semua orang menangisinya. Seorang laki-laki yang wajahnya masih terlihat begitu cerah meski darah merah membanjiri wajah itu. Wajah yang tak kan pernah mereka lihat lagi.
Dinda hanya bisa memandang wajah itu dengan air mata yang masih menetes. Sekali lagi, dia berharap terbangun dari mimpi yang tak pernah ia harapkan. Kembali pikirannya bermain-main dengan semua kenangannya besama Adi. Hanya ada nama Adi di pikirannya malam itu. Menyentuh wajahnya yang begitu dingin dan membeku.
Mengantar kepergiannya menuju sebuah singgasana terakhir kala pagi menyapa. Melihat orang-orang membawa keranda itu menghilang dari pandangannya. 13 Mei 2010, adalah akhir dari perjumpaan itu. Ikhlas dan ridho atas semua ketetapan Sang Illahi. Menyadari bahwa Allah sangat mencintai Adi, hingga memanggilnya lebih dulu dari yang lain di usianya yang hampir 19 tahun. Dinda hanya bisa berdoa dan berharap Allah menjadikan Adi seorang syuhada.
Lalu, apa lagi yang bisa diceritakan dari Adi dan Dinda? Semua sudah berakhir bukan? Tapi tidak bagi Dinda. Adi selalu mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya. Menjadi insprasi yang tak mampu diberikan orang lain. Saat Dinda jatuh cinta, saat Dinda menangis, saat Dinda berjuang, saat Dinda kehilangan, dan saat Dinda tertawa bahagia, selalu ada nama Adi yang tersemat dalam relung kalbunya.
Kemudian, mengapa penulis memberikan judul “Pelangi Senja” pada cerita singkat ini? Ya, Adi, dialah pelangi senja untuk Dinda. Yang selalu memberikan warna indah kala malam hendak membawanya ke dalam buaian indah.
Share:

IMM Adventure


IMM Adventure
Oleh IMMawati Istiqomah Noor Fajri

IMM Adventure, sebuah petualangan yang luar biasa berkesan bagi kader IMM komisariat FKIP UMS. Berangkat dari program kerja bidang kader, IMM Adventure telah memberikan banyak ilmu, kenangan dan pengalaman yang mungkin tak kan pernah terlupakan. Dilaksanakan di belahan bumi Indonesia bernama Karanganyar, tepatnya di Selorejo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar pada hari jumat-ahad tanggal 29 November hingga 1 Desember 2013.
Pendalaman materi Ke-Islam-an, Ke-Muhammadiyah-an dan Ke-IMM-an disampaikan pada hari pertama. Tak hanya pedalaman materi, pada hari pertama, kader maupun pimpinan menyempatkan diri sejenak untuk membaca buku pada ruang baca yang dilaksanakan bada isya. Hari kedua, diawali dengan olahraga pagi dan materi ke-Mahasiswa-an sebelum outbond.
Outbond dilaksanakan dengan beberapa pos yang harus ditempuh serta rute yang tidak begitu mudah. Perjalanan yang memberikan kesan tersendiri dalam diri kader. Pemandangan gunung, hamparan ladang sayuran, pohon-pohon nan tinggi dan masih banyak lagi keajaiban Illahi yang tak mampu terungkapkan melalui tulisan ini. Perjalanan diakhiri pada pos 5 di kawasan air terjun jumog. Melepas penat, lelah dan melakukan orasi menjadi perpaduan yang begitu menyenangkan. Dilanjutkan dengan malam inagurasi berteman dengan cahaya lilin yang jadi penerang pada malam itu. Pertunjukan sederhana dari kebudayaan beberapa daerah di belahan bumi Indonesia dengan alat yang sangat sederhana pula.
Hari ketiga atau hari terakhir sebelum beranjak meninggalkan kota Karanganyar, peserta IMM Adventure melakukan analisis sosial, dimana peserta mengunjungi warga setempat dengan melakukan wawancara. Dari hasil wawancara tersebut kemudian dipresentasikan hingga timbul beberapa pertanyaan dan menghasilkan suatu kesimpulan.
Terlepas dari kegiatan IMM Adventure selama tiga hari tersebut, ada sebuah petualangan yang luar biasa yang dialami 6 orang yang datang menyusul pada kegiatan IMM Adventure. 6 orang dengan 3 sepeda motor, yang sama sekali tidak tahu jalan menuju lokasi IMM Adventure. 6 orang yang hanya mengandalkan insting dan papan petunjuk arah di jalan-jalan. 6 orang yang menembus kegelapan malam pegunungan dengan jalan yang cukup menanjak dan sangat gelap, hanya berteman dengan lampu sepeda motor. 6 orang yang menaiki sepeda motor dengan kecepatan tidak lebih dari 60 km/jam. Menikmati lampu kota dari atas gunung yang luar biasa menakjubkan. Hanya dengan bermodal bensin, receh dan doa disetiap langkah perjalanan itu, akhirnya sampai juga pada sebuah rumah yang dihuni oleh puluhan kader dengan kepemilikan atas nama Bapak Miyo.
Petualangan tidak hanya sampai disitu. Perjalanan pulang dengan menggunakan motor yang sama, bersama dengan rombongan akhirnya terpisah juga ditengah jalan. Melewati jalan yang belum pernah dilalui sebelumnya oleh 2 gadis yang sama-sama gila. Sekali lagi, hanya dengan doa, insting dan pembacaan papan petunjuk arah di jalan menuju perjalanan ke sebuah kota bernama Solo. Jalan yang begitu sepi, jauh dari jalan raya, bentangan sawah yang menemani perjalanan itu, serta jalanan yang jauh dari kata layak. Akhirnya tiba juga di kampus yang bukan hanya tempat kami kuliah, namun juga tempat singgah kami, rumah kami, tempat kami mengukir berbagai cerita yang telah kita torehkan bersama, disetiap waktu, tempat dan kenangan.
Kesan dari IMM Adventure ini tak sebatas 3 hari saja di kawasan Candi Sukuh maupun Air Terjun Jumog, namun lebih dari itu. Dimana kita menemukan sebuah keluarga, mencurahkan kasih sayang yang begitu indah, tak ada kata senior maupun junior, melainkan kakak dan adik.
Semoga petualangan ini tak hanya berhenti sampai di sini. Akan ada perjuangan-perjuangan yang akan kita torehkan bersama. Berangkat dari sebuah kota bernama Surakarta, menuju sebuah negeri bernama Indonesia.

Fastabiqul Khairat....
Abadi Perjuangan...
Jaya IMM
Tertulis tanggal 04 Desember 2013

Share:

Popular

Labels

Recent Posts

Label Cloud

About (2) Agenda (8) Artikel (21) bidang hikmah (1) Bidang Immawati (1) Bidang Kader (1) bidang SPM (1) BTKK (2) buletin (2) Data Base (1) ekowir (1) galeri (5) Immawan (2) Immawati (9) Informasi (8) islam (2) Kajian (1) MAKALAH (2) Opini (15) Organisasi (2) Profil (1) Puisi (4) Resensi (6) Review (1) struktur (1) Tabligh (2)

QOUTES

Tidak akan ada kebenaran yang muncul di kepala, bila hati kita miskin akan pemahaman terhadap ajaran agama Allah.
-KH.Ahmad Dahlan