Review Buku "Analisis Gender dan Transformasi Sosial"

Gambar sampul buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial

Oleh : IMMawati Larasati Sekar Arum dan IMMawati Purwaning Tyas
(Kader PK IMM FKIP UMS 2021/2022)

Buku yang ditulis oleh Mansour Fakih ini banyak menjelaskan banyak hal terkait gender, analisis gender, ketidakadilan sosial, feminisme, dan transformasi sosial secara terperinci. Semua sudah digamblangkan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembacanya. Meski ada beberapa bahasa atau istilah yang memang masih memerlukan bantuan KBBI.

Buku karya Mansour Fakih ini terdapat 192 halaman termasuk daftar pustaka dan latar belakang penulis. Buku bersampul putih ditambah judul lalu terdapat kepalan tangan perempuan di huruf O pada kata ‘sosial’ terlihat sangat artistik dan elegan. Kertasnya pun bukan kertas yang buram sampai tulisan tak terbaca.

Tulisannya masih bisa terbaca. Namun sayangnya, ada beberapa halaman yang terkesan double dalam buku ini. Sehingga menambah halaman yang ada. Jika anda teliti dalam membacanya, maka akan temui halaman yang isinya serupa di buku ini.

Menariknya, buku ini menyajikan beberapa gambaran ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh struktur ekonomi-politik kapitalisme secara rinci. Struktur ekonomi-politik yang kerap membuat kesetaraan gender menjadi timpang.

Menurut Mansour Fakih, persoalannya terletak pada belum banyaknya orang yang tahu menahu serta dapat membedakan antara ‘Gender’ dan ‘Seks’. Kata Gender terdengar asing, sementata kata Seks masih terlalu tabu di wilayah atau di lingkungan masyarakat kita. Dari sini saya akan berikan penjelasan mengenai keduanya. Seks merupakan jenis kelamin atau merupakan biologis dan kodrat dari Tuhan yang tidak dapat dirubah/permanen.

Sedangkan Gender berarti perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat dari Tuhan. Bisa dikatakan juga bahwa gender adalah perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang telah di konstruksi secara sosial. Atau bisa disebut perbedaan yang bukan kodrat dan bukan dari Tuhan. Melainkan diciptakan oleh manusia melalui proses sosial-kultural yang sangat panjang.

Gambaran mengenai perempuan yang lemah lembut, cantik, emosional, keibuan, berperasaan, dll. Begitupun dengan laki-laki yang kuat, rasional, jantan, perkasa dll. Semua itu merupakan bentuk konstruksi dan kultur yang telah dibuat sendiri oleh masyarakat.
Padahal kedua sifat yang katanya sudah menjadi kodrat laki-laki dan perempuan itu dapat tertukar atau dapat ditukarkan. Perempuan juga ada yang kuat, perempuan juga rasional, atau laki laki juga emosional, ada yang lemah lembut juga, nah itu yang dimaksudkan dalam konsep gender. Konsep gender yang selama ini sudah timpang, namun tetap diterima begitu saja oleh masyarakat. Padahal, lama-kelamaan konsep gender yang irasional ini perlahan melahirkan ‘ketidakadilan‘ bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Oleh karena itu, untuk menantang konsep gender yang timpang ini lahirlah antitesis yang mencoba mengembalikan konsep gender yang makin kesini makin irasional itu. Antitesis tersebut yakni Feminisme. Feminisme adalah sebuah teori atau gagasan yang dumulai sejak akhir abad ke-18 dan berkembang pesat di abad ke-20 yang menyuarakan tentang kesetaraan, dan keadilan hak dengan laki-laki.

Ada beberapa jenis atau gagasan teori feminism ini contohnya seperti : feminis liberal, feminis marxis, feminis radikal. Meskipun mempunyai gagasan yang berbeda, tujuan dan maksud adanya gerakan feminisme ini adalah memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak untuk kaum perempuan. Terkhusus permpuan-perempuan dari kelas buruh. Bukan melawan kaum laki-laki atau ingin menindas kaum laki-laki.

Namun lebih kepada memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak perempuan dalam melawan kapitalisme. Tanpa disadari, adanya kapitalisme membuat kaum perempuan dan laki-laki menjadi tertindas dan ketimpangan sosial. Kaum laki laki dan perempuan rela menjadi buruh para kapitalisme dengan mendapatkan upah yang sangat sedikit tak sebanding dengan jam kerja yang telah dilakukan.

Lalu, mengapa judul ini analisis gender dan transformasi sosial?

Melalui buku ini akan dibahas secara habis-habisan mengenai menganalisis gender terlebih dahulu, kemudian muncul gerakan Feminisme yang memperjuangkan dan membela kesetaraan dan hak hak perempuan yang kemudian terjadilah sebuah transformasi sosial yang ada. Selengkapnya bisa di baca buku “Analisis Gender dan Transformasi Sosial” Karya Mansour Fakih ini.

Buku ini sangat di rekomendasikan untuk kaum perempuan yang sedang dalam memperjuangkan kesetaraan, hak hak perempuan, dan menyuarakan tentang pelecehan seksual. Apalagi yang sedang dan baru belajar mengenai hal-hal seputar perjuangan perempuan. Semoga review kali ini dapat menggugah minat pembaca untuk membeli dan membaca buku yang sangat bermanfaat ini.

 


Share:

TPA Ramadhan 1443 H IMM FKIP UMS

Gambar Kegiatan TPA Ramadhan 1443 H 
IMM FKIP UMS 2021/2022

Penulis : Arif Dwi Saputra
Ketua Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat IMM FKIP UMS 2021/2022

Taman Pendidikan Al-Qur'an (disingkat TPA atau TPQ) merupakan lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan nonformal jenis keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran membaca Al-Qur'an sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar dinul Islam pada anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar dan atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI) atau bahkan yang lebih tinggi. (sumber Wikipedia)

Selama Ramadhan, IMM FKIP UMS mengajar TPA di Masjid Baitul Qorib yang terletak di Kleco. Kegiatan ini digagas oleh bidang tabligh dan kajian keislaman (TKK) dan bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (SPM). Tempat yang kita tuju, yakni masjid Baitul Qorib merupakan masjid yang direkomendasikan langsung oleh ketua umum IMM FKIP UMS saat ini, IMMawan Achmad Mahbuby. 
Banyak pihak yang terlibat dalam TPA ini, mulai dari kader, pimpinan, alumni imm fkip ums, serta remaja masjid baitul qorib. Anak-anak yang diajar berjumlah dua puluhan, mulai dari TK sampai SD kelas enam. Meski tidak banyak jumlahnya, IMM FKIP UMS tetap antusias dalam mengajarkan bacaan bacaan al quran kepada anak-anak.

Kegiatan ini berlangsung satu bulan selama ramadhan, dan harapannya terus berlanjut hingga kedepannya.
Share:

Semarak Milad ke 58 IMM FKIP UMS

"Berkarya Tanpa Henti Menginspirasi Negeri Melalui Spirit Budaya Ikatan”

Oleh: IMMawan Ahmad Farid Al Azhar
Anggota Bidang Media dan Komunikasi

Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Kota Surakarta menyelenggarakan serangkaian acara dalam rangka memperingati Milad IMM pada bulan Maret 2022. Tema yang diambil adalah“Berkarya Tanpa Henti Menginspirasi Negeri Melalui Spirit Budaya Ikatan”. Acara tersebut diantaranya ialah serangkaian lomba-lomba, dan gebyar budaya. Lomba-lomba yang diadakan terdiri dari lomba badminton, memasak, orasi, essay, dan desain e-poster.  

Rangkaian acara berlangsung selama 12 hari dengan tempat yang berbeda-beda. Persiapan IMM FKIP dari tanggal 14 Maret 2022. Lomba badminton diadakan tanggal 19 Maret 2022. Disusul agenda lomba masak pada tanggal 20 Maret 2022. Lomba orasi dibuka untuk umum. Pelaksaannya pada tanggal 21 Maret 2022. Selanjutnya lomba essay yang diadakan pada tanggal 14-27 Maret 2022. Lomba e-poster sedikit berbeda, diadakan pada tanggal 16-27 Maret 2022. Lomba essay dan Desain e-Poster diakhiri pada tanggal yang sama, karena dari IMM FKIP kolaborasi dengan IMM Azzahrawi. 

Puncak acara, yaitu dilaksanakannya Gebyar Budaya yang pada Sabtu, 26 Maret 2022. Pada acara gebyar budaya ini, bukan hanya dari IMM FKIP saja yang tampil di panggung, tetapi ada beberapa komisariat dan ormawa lainnya yang tampil juga. Seperti Komisariat Al-Ghozali dan Averroes yang menampilkan Akustik, Komisariat Al-Fatih menampilkan drama kolosal, dan HMP PTI menampilkan akustik juga. Sementara itu IMM FKIP menampilkan Tari Indang dan Drama Musikal Kemanusiaan. Atas bantuan Allah SWT dan seluruh panitia yang terlibat, gebyar budaya berjalan lancar, meski persiapan yang dilakukan kurang maksimal.
Share:

Jangan Terburu-buru, Temukan Maknamu!

Oleh: IMMawati Desla Fitriana

Kader PK IMM FKIP UMS


Standar Pendidikan di Indonesia kini telah berubah. Dahulu wajib belajar 12 tahun, yang artinya lulusan SMA merupakan satu hal yang membanggakan. Namun, berbeda dengan sekarang. Banyak orang berbondong-boondong kuliah, bukan karena telah menemukan makna dan tujuan mengapa mereka memutuskan untuk kuliah, tapi kebanyakan mereka hanya mengejar validasi masyarakat.

Kita selalu tahu ingin jadi apa, tapi pada akhirnya kita tak pernah tahu akan jadi apa. Berjuanglah atas apa yang kita inginkan semaksimal mungkin, namun jangan berjuang karena untuk mengejar pengakuan orang lain. Standar penilaian setiap orang berbeda-beda. Kita sungguh akan lelah jika mengikutinya. Alhasil, validasi tak kita dapati, tapi justru kita malah kehilangan makna hidup. Yakinkan pada diri kita bahwa ridha manusia adalah puncak yang tidak akan pernah dapat kita gapai.

Ketika kita tidak kuliah, lantas ada perkataan menyakitkan karenanya. Mungkin sebagian kita mengira, masalah akan selesai ketika kita kuliah. Namun tidak demikian faktanya. Ketika kita menjadi seorang sarjana dan tak kunjung dapat kerja, itu pun akan menjadi masalah baru. Pada akhirnya kita menyadari bahwa kuliah bukan solusi dari permasalahan terkait validasi orang terhadap diri kita.

Banyak orang ingin kuliah di tempat dan jurusan tertentu hanya untuk mendapatkan prestise dan pujian orang lain. Lagi-lagi sebab mengapa kita kuliah terdistorsi oleh validasi orang lain. Ketahuilah, bahwa terkadang di mana kita belajar, tak selalu merepresentasikan diri kita yang sebenarnya. Jangan jadikan diri ini besar karena almamater. Tapi buatlah almamater yang kita gunakan, besar karena diri kita.

Suatu fakta yang menyedihkan memang, banyak orang berambisi dan berlomba-lomba untuk masuk ke perguruan tinggi, namun ketika ditanya mengapa mereka kuliah, banyak yang tak bisa menjawab atau menjawab dengan jawaban-jawaban klise. Membanggakan orang tua? Benarkah orang tua akan bangga jika kita telah menjadi sarjana? Apakah jika kita tidak dapat menjadi sarjana, lantas orang tua kita malu memiliki anak seperti kita?

Jika kita kita menjadi orang tua, memang kita pasti akan bangga ketika anak kita menjadi sarjana. Tapi kita pun akan tetap dan sangat bangga ketika anak kita, tumbuh menjadi anak yang baik, sopan, dan berbakti kepada orang tua, meski bukan seorang sarjana. Kita seringkali membuat alasan yang nampak bijak untuk menutupi gengsi yang sedang kita turuti.

“Mengapa kita kuliah” adalah pertanyaan yang terlalu singkat untuk dikatakan sulit dan terlalu fundamental untuk dijawab. Banyak orang kuliah bak sedang mengikuti lomba lari. Berusaha lulus cepat dan juga menyandang gelar cumlaude. Lulus cepat itu bisa baik, bisa juga buruk. Namun yang terpenting, jangan petik buah sebelum ia benar-benar matang. 

Pada akhirnya kita menyadari bahwa kuliah itu lebih dari sekedar mendapatkan validasi orang, meraih prestise, dan menyelesaikan masalah. Jangan terburu-buru memutuskan untuk kuliah karena tekanan lingkungan, temukan dulu maknamu. Jangan terjebak pada Action Bias, yang beranggapan bahwa melakukan aksi akan lebih berharga ketimbang tak melakukan aksi, meskipun aksi itu tak memberikan manfaat atau dampak positif bagi kita. Ingatlah bahwa kita harus melakukan sesuatu karena kita memang membutuhkannya, bukan hanya sekedar karena kita mampu melakukannya. 

Share:

Yang Terampas Dari Wadas


Desa kami hanya tempat pribumi mengais sisa harapan untuk hidup…

Surga kecil kami hanya untuk secercah senyum tulus di akhir senja yang menangis…

Perlahan, kau cabut andesit itu dari sisa-sisa napas kelaparan kami…

Hingga yang tersisa, hanya derita di sepanjang ajal….

 

Para penjajah berkedok Raja…

Terbitkan surat sana-sini….

Menabung opini pemuas hasrat bengis….

Sial, mereka merapal seolah mereka yang tertindas….

 

Senyum hidup kami kau rampas….

Bahkan raga sudah tak kau nilai lagi harganya…

Lantas kau harap suara kami bungkam?

Tidak! Sebab kebenaran masih membara dalam hati kami!

 

-Solo,08 Maret 2022-

_Fajry Annur

Share:

Tegining Teganang dan Kisah Wadas Melawan


Oleh : IMMawan Lalu Muhammad Ilham Fajri
Ketua bidang hikmah PK IMM FKIP UMS 2021/2022

Harari dalam buku monumentalnya, “Sapiens” menjelaskan bahwa melalui fiksi manusia melangsungkan dan mempertahankan kehidupan serta membangun peradaban. Beragam fiksi diciptakan oleh sapiens, meskipun tak selalu mengerti kebenaran yang ditawarkan oleh fiksi tersebut. Namun, bagi mereka yang mempercayainya, “fiksi” itu bukan dusta sama sekali.

Namun adalah sebuah fakta jika “fiksi” dapat membawa pada suatu kebaikan juga keburukan di sisi lain. Fiksi tentang nasionalisme misalnya yang membuat kita menjadi memiliki satu tulang dan satu darah dalam merah putih. Fiksi tersebut telah lama tertanam dan mencegah pertumpahan darah. Namun disisi lain ada juga fiksi yang membawa dampak buruk. Dalam sejarah penindasan ras misalnya kita mengenal fiksi “kulit putih lebih unggul daripada ras yang berkulit hitam”. 

Fiksi yang dijelaskan Harari bukanlah dalam artian sesuatu yang bersifat khayalan atau rekaan semata. Namun yang menjadi fokus di sini adalah bagaimana hal-hal fiktif tersebut dapat mempengaruhi tindakan-tindakan kolektif manusia. Setiap kelompok manusia dalam rumpun tertentu mesti memiliki fiksi bersama yang membuat mereka merasa memiliki ikatan. Tak terkecuali warga desa Wadas yang telah hidup bersama bertahun-tahun lamanya.

 Tentu warga Wadas memiliki fiksi yang mereka percayai bersama sebagai sesuatu yang menjamin kelangsungan hidupnya dengan bahagia. Dalam berbagai wacana tentang Wadas, digambarkan masyarakat Wadas percaya bahwa alam adalah sumber dari segala kehidupannya. Kebanyakan dari warga Wadas mempertahankan hidupnya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tumbuh subur di desanya. Sehingga bagi mereka, perusakan terhadap alam Wadas sama saja dengan merusak hidup Warga desa tersebut. Bagi warga Wadas hidup harmonis nan indah dengan lingkungan yang tentram dan menghidupkan tentu tak layak ditukar dengan planet mars sekalipun.

Telah bertahun-tahun, pemerintah menawarkan fiksi lain bagi warga Wadas. Pemerintah yang ingin menjadikan Wadas sebagai quarry untuk menambang batu andesit untuk kebutuhan membangun bendungan Bener menawarkan fiksi: warga Wadas akan memperoleh kesejahteraan apabila mengikhlasan pembebasan lahan. Pemerintah juga menjanjikan area penambangan akan direklamasi  dan dijadikan tempat wisata sehingga menjadi lapangan kerja baru bagi warga Wadas.  Dengan berbagai riset para ahli yang disebutkan, pemerintah juga berjanji proyek penambangan ini dilakukan dengan memperhatikan risiko kerusakan lingkungan sehingga warga tak perlu khawatir kehilangan mata pencaharian. Pejabat kenamaan, Pak Ganjar berkelakar, “Uang ganti pembebasan lahan mau dipakai buat beli apa?” ia berharap uang ganti ini dapat digunakan dengan bijak sehingga warga dapat hidup sejahtera. Begitulah Fiksi yang ditawarkan pemerintah, yang menyatakan bahwa proyek ini adalah demi kepentingan bersama.

Namun apakah demikian adanya? Saya kurang tau, sebab itu barulah fiksi yang diawali dengan cerita-cerita ketakutan, penangkapan, pemukulan, atas nama keamanan. Tak heran warga Wadas tak mau menempuh jalan cerita itu, meskipun tawarannya menggiurkan warga Wadas sadar itu menipu. Sebab warga Wadas memiliki fiksi, yang ia yakin lebih membahagian bagi cerita hidupnya.

Namun bagaimana warga Wadas dapat mempertahankan tanahnya, mempertahankan ikatannya dengan rumpunnya, serta mempertahankan fiksinya. Warga wadas adalah masyarakat kecil yang kebanyakan merupakan petani yang hidup dari ladang, kebun, dan hutan wadas. Sedang ia menantang golongan kekuasaan yang tidak lain adalah pemerintah beserta aparat-aparat bersenjatanya. Apa yang dapat menjamin hak-hak warga Wada selain kelantangan suaranya.

Karakteristik warga Wadas yang demikian mengingatkan saya pada masyarakat di kampung halaman saya, Lombok yang sebagian besar warganya juga merupakan petani. Dalam sejarah panjang perjuangan di Lombok, banyak kisah perlawanan petani dan warga kecil terhadap penjajah juga pejabat dan bangsawan yang lupa harga dirinya. Telah banyak kekalahan yang dialami rakyat kecil melawan penguasa, namun masih ada satu yang tersisa yakni suara yang disulut bara. Sebab harga diri tak dapat ditukar bak harga benda. Sebuah kisah dalam lagu tradisional Sasak menggambarkan sikap hidup yang demikian. Lagu tersebut berjudul Tegining Teganang”. Berikut syairnya:

Leq jaman laek araq sopoq cerite

Inaq Tegining Amak Teganang arane

Pegaweane ngarat sampi leq tengaq rau

Sampi sai tekujang kujing leq tengaq rau

Inaq Tegining Amak Teganang epene

Ongkat dengan Tegining Teganang luek cerite

Ngalahin datu si beleq-beleq ongkatne

Artinya:

Pada dahulu kala terdapatlah sebuah cerita

Ibu Tegining dan Bapak Teganang namanya

Pekerjaannya menggembalakan sapi di tengah ladang

Sapi siapa yang dizalimi di tengah ladang

Ibu Tegining dan Bapak Teganang yang punya

Orang bilang Tegining Teganang banyak cerita

Mengalahkan raja yang besar-besar katanya

Melihat apa yang terjadi di Desa Wadas, saya langsung teringat pada lagu Tegining Teganang tersebut. Saya membayangkan Ibu-ibu Tegining yang yang dengan berani duduk dibarisan terdepan berzikir, menyebut nama Tuhannya memohon perlindungan dari nasib-nasib buruk yang mengintainya juga ladang leluhurnya. Juga bapak-bapak Teganang yang bersedia menghadang apa-apa yang mengancam keluarganya.

 Mereka bersetia menjaga kesederhanaan hidup yang amat membahagiakan dan hanya itu yang mereka punya. Demi itulah mereka berjuang. Mereka hanya mempertahankan hak-haknya dan mereka tak pernah ingin ada perpecahan di kampungnya. Oleh sebab itu, tak patutlah mereka diamankan dengan cara-cara kekerasan sebab sudah semula warga Wadas hidup aman. Sangat ironi bagi warga Wadas bahwa mereka diamankan oleh orang-orang yang menyakitinya.


 


Share:

Ini Tentang Kita yang Satu Simpul Dalam Ikatan



 Oleh: IMMawati Fajry Annur, 

kader IMM FKIP 2022


Halo, perkenalkan aku IMMawati Fajry, izin sedikit membagikan kisah tentang Darul Arqam Dasar kemarin, yang menurutku sangat banyak hikmah yang bisa diambil. Tentang rasa kebersamaan dan solidaritas yang kami senantiasa junjung, tentang kesederhanaan yang senantiasa kami syukuri.

Sambi, Boyolali 10 Februari 2022, adalah hari yang membuatku sedikit membuat perasaanku campur aduk, di mulai dengan drama pakaian yang mau di bawa ke pelatihan berapa aja yah? Bawa bekal atau makan dulu aja? Eh, sampai pada saat kumpul di kom pun saya drama dulu dengan mamang grab, yang ternyata saya salah atur lokasi kampusnya haha, Alhamdulillah untung bapaknya baik. Sesampainya di komisariat IMM ternyata sudah banyak sekali teman-teman yang menunggu, saya jadi tidak enak karena terlambat, tapi saat stadium general masih ada yang lebih terlambat dari pada saya.

Saat stadium general sendiri, sebenarnya saya mempunyai pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada pemateri, tapi karena waktu yang terbatas akhirnya urung saya tanyakan. Tapi, tak masalah, ada perjalanan panjang yang akhirnya membuat saya mengerti secara perlahan, dan pelan-pelan menjawab tanya saya selama ini.

          Perjalanan pun kami mulai, dengan bus yang sangat sederhana dan panas itu, saya pikir rasa-rasanya seperti mengantar rombongan pengantin haha, soalnya music yang distell lagu jawa khas buat acara pengantin haha, saya sama diva pun saling melirik, yah mengertilah maksudnya apa.

Selama perjalanan saya tertidur, tapi tidak pulas, dan itu yang membuat kepala saya sakit saat sampai, rasa mengantuk yang mengganjal dan rasa lapar yang hampir tak tertahan lagi, bercampur jadi satu. Kami pun transit di sebuah masjid, yang nantinya menjadi tempat sangat sacral bagi kami semua.

Petang berlabu dengan khidmat, diiringi suara tokek, sapi dan kambing yang kadang sahut-sahutan, kami ditempatkan di rumah sederhana, beralaskan karpet, kadang-kadang tanahnya masuk saking seringnya kami bergerak-gerak. Rasanya saya ingin sekali mengeluh, sebab tempat perkaderannya sangat jauh dari ekspektasi saya, saya kira akan ditempatkan di sekolah, ternyata di sebuah rumah sederhana yang kemudian menjadi saksi perjuangan kami selama beberapa hari ke depan. Tapi, entah kenapa, saya teringat dengan perkataan mama saya, bahwa apa pun yang kamu dapatkan, harus disyukuri, dan yah, itu adalah pelajaran pertama yang saya dapatkan, Bersyukur!

Malam pertama itu, kami makan nasi-sayur dengan kerupuk, saya agak kurang senang dengan beberapa teman-teman yang mengomentari masakan itu. Tapi, saya menarik pikiran saya, mungkin saja mereka tidak atau bahkan belum pernah mendapat makanan yang seperti itu, tapi yah tetap harus kita syukuri kan?

Pada malam hari itu pula, kami disodorkan dengan kalimat “Menolak Tunduk dan Bangkit Melawan, Karena Diam Adalah Kehancuran dan Mundur Adalah Pengkhianatan”. Kata itu yang kemudian menimbulkan sekelumit tanya pada diri kami semua. Berbagai penafsiran muncul. hingga saya dan kami semua pun mengetahui maknanya di kemudian hari.

Seusai tahajjud, saat kemudian melakukan deep talk, saya tahu satu hal malam itu, saya menjadi orang yang membohongi diri saya. Makna ‘rumah’ yang selama ini saya anggap, ternyata bukan itu definisi sebenarnya. Tapi, apakah saya lantas menolaknya mentah-mentah? Tentu tidak, saya menyadari kesalahan saya, saya menyadari kepura-puraan saya, saya menyadari bahwa saya berpura-pura atas diri saya sendiri. Saya seperti seorang penakut yang sangat takut untuk dikecewakan. Pengalaman mengajarkan saya tentang kekecewaan yang begitu besar, hingga kemudian saya terlihat pura-pura menerima, padahal dalam diri, saya bergelud dengan berbagai macam emosi.

Menerima tapi tidak menerima

Jadikan itu menerima dan menerima.

Sejak malam itu, saya tersadar, bahwa kekecewaan tidak boleh berlarut, hidup harus maju. Jika kita tak percaya siapa pun, maka tugas kita hanya satu, yaitu mencoba untuk percaya lagi. Mungkin terdengar munafik, tapi yah, inilah hidup, manusia tidak bisa lepas dari kesalahan, sebaik dan sesempurna apapun mereka. Sama seperti saya.

Hari-hari berlanjut seperti biasa, saya senang sekali ketika setelah materi ada diskusi kelompok bersama (FGD) di situ saya bisa melihat teman-teman saya yang sebenarnya aktif tapi pada saat materi kebanyakan diam, di situ saya berpikir, apa mereka malu? Apa mereka tidak percaya diri karena melihat teman-teman yang lain aktif bertanya, dari situ saya kemudian melihat porsi diri saya dalam menanyakan beberapa hal kepada pemateri, saya mencoba menahan pertanyaan saya dan memberikan ruang kepada mereka yang ingin bertanya, karena rasanya saya menjadi orang yang egois kalau bertanya terus haha. But, saya mencoba tetap aktif.

          Bagi saya, Darul Arqam Dasar kemarin bukan sekadar memberikan ilmu materi saja, melainkan yang saya rasakan pribadi, justru pelajaran yang paling banyak saya ambil adalah dari pengalaman, yah seperti yang filsafat empirisme katakana, bahwasannya ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman haha. Berbicara soal filsafat yang bagi saya terdengar rumit dan membuat otak terpelintir itu nyatanya menyenangkan juga haha.

Hari-hari berlalu, makanan, air minum, pertemanan, solidaritas, kekompakan, keegoisan, menyatu dalam satu wadah. Di sini, saya paham akan makna bersyukur dan tidak mementingkan diri sendiri. Kebebasan kita terbatas karena kebebasan orang lain. Ini bukan tentang siapa yang paling cerdas dan mampu akan semua materi. Bagi saya, ini tentang pelajaran menerima dan mengerti. Saya teringat kata-kata mas IOT. Bahwa “IMM sudah kebanyakan orang pintar, tetapi masih kurang dalam aksi”. Kurang lebih seperti itu. Yah, itu menyadarkan saya, bahwa apa gunanya saya belajar materi selama lima hari empat malam, jika dalam mengerti dan membantu teman se-perkaderan saya saja, saya tidak bisa. Dalam DAD itu bukan tempatnya pamer ilmu pengetahuan, tapi tempat di mana saling merangkul dan mengembangkan wawasan. Bukan ajang untuk unggul-unggulan diri.

Hari-hari berlanjut, tiba pada malam kami dikukuhkan sebagai kader, jujur saya terharu, melihat kembali perjuangan kami selama beberapa hari terakhir. Saat azan itu berkumandang, rasanya seperti ada sesuatu yang bergetar dalam hati saya. Saat Hymne itu dilantunkan semakin bertambah semangat saya untuk berjuang dalam satu ikatan. Karena kami bukan dua puluh lima orang, kami adalah satu!

Fastabiqul Khairat!


 

Share:

Demokrasi, propaganda media, dan bagaimana kita bisa merdeka darinya

 


Resensi Buku Politik Kuasa Media

Sumber gambar: https://www.goodreads.com/book/show/17879769-politik-kuasa-media

Oleh: Lalu Muhammad Ilham Fajri

Ketua Bidang Hikmah PK IMM FKIP UMS 2021/2022


Bagi kita mahasiswa, kata demokrasi adalah makanan ringan yang sangat sering kita konsumsi baik itu di bangku pendidikan ataupun di televisi juga di meja-meja kopi. Tiap membicarakan demokrasi, masing-masing penduduk majelis diskusi bisa memaknai demokrasi dengan makna yang berbeda-beda. Ada yang memaknainya sebagai sistem politik, kebebasan, hak berusara, dan lain-lain. Namun dengan postulat yang lebih sederhana kita tentu sepakat bahwa demokrasi sebagaimana selogannya merupakan usaha “dari rakyat, demi rakyat dan untuk rakyat”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah ini dimakani menjadi “bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat”.

Noam Chomsky, seorang linguis kenamaan abad 20 ini juga mempersoalkan perkara demokrasi. Chomsky setuju bahwa memang demokrasi menyediakan ruang bagi rakyat untuk mengatur kesejahteraannya melalui hak bersuara yang dimilikinya. Di samping itu, sistem demokrasi ini memungkinkan adanya kebebasan dan keterbukaan. Namun, Chomsky juga menaruh kecurigaan yang amat besar pada sistem demokrasi. Dalam bukunya berjudul “Politik Kuasa Media”, ia menekankan bahwa tidak cukup memahami demokrasi dari makna kamus. Sebab ada makna lain yang sebenarnya tumbuh seiring berjalannya demokrasi. Makna lain itu oleh Noam Chomsky dijelaskan bahwa demokrasi yang berjalan bisa jadi sangat berkebalikan dengan makna demokrasi yang selama ini kita pahami. Demokrasi dalam kenyataannya dapat kita lihat sebagai sistem yang berusaha menina bobokan rakyat, serta menjaga agar rakyat tidak bangun dan mau ikut campur akan urusan pemerintahan. Hal ini dilakukan untuk kepentingan kaum “empunya” kekuasaan. Agar kondisi ini tetap terjaga, dikerahkanlah kaum-kaum intelektual dalam dunia politik ataupun media massa melalui berbagai bentuk propaganda..

Rakyat yang tak tahu apa-apa tak lebih dari sekedar kaum pandir yang digembalakan melalui warta berita di media ataupun iklan-iklan hidup bahagia. Bagaimanapun caranya, kaum ini harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari kenyataan apa yang sebenarnya kaum empunya dan intelektual-intelektualnya rencanakan. Sebab demokrasi yang dijalankan tak selamanya berorientasi pada kepentingan rakyat. Ada kondisi di mana mereka yang memegang kuasa harus mengorbankan kepentingan rakyatnya.

Rekayasa persepsi adalah cara yang ampuh untuk menjaga demokrasi berjalan sebagaimana mestinya (menurut kepentingan yang berkuasa). Maka bak lagu Rekayasa Cinta milik Camelia Malik, “ Kalau cinta sudah di rekayasa/ dengan gaya canggih luar biasa/rindu buatan, rindu sungguhan/ susah dibedakan”. Media massa adalah pedang bermata dua dalam demokrasi, di satu sisi ia semestinya dapat membuka informasi agar masyarakat paham dan dapat turut andil mengurusi kebutuhannya. Namun di sisi lain, media massa juga dapat digunakan untuk menutupi mata jalang pelaku skandal-skandal politik yang haus harta dan kekuasaan. Skandal-skandal ini harus disensor dari pengelihatan dan pendengaran rakyat. Jika tidak, tentu akan jadi kekisruhan besar-besaran.

Propaganda merupakan serangkaian pesan yang dimainkan untuk mempengaruhi persepsi dan tindakan masyarakat. Propaganda dilakukan dengan harapan bahwa presepsi dan tindakan masyarakat sesuai dengan apa yang pelau propaganda harapkan. Chomsky mencontohkan ketika ada demonstrasi besar-besaran di Pensylvenia, pemerintah tidak mengatasi demonstrasi itu melalui cara-cara kekerasan, melainkan dengan memainkan propaganda. Caranya dengan membuat berbagai wacana yang mengubah presepsi masyarakat tentang aksi demonstrasi. Mereka yang semula semangat berdemonstrasi dibuat menjadi sangat membenci demonstrasi. Disebarkanlah wacana-wacana yang mengatakan bahwa demonstrasi dengan kekisruhan dan kata-kata kasar yang ada di dalamnya adalah wujud perbuatan yang tidak beradab lagi terhormat. Diaykinkanlah bahwa demonstrasi bukanlah cara untuk orang-orang terhormat seperti orang-orang Amerika.

Begitu canggih industri propaganda yang di miliki Amerika demi menjalankan hasrat oportunis yang dimilikinya. Sebagaimana pesan Remy Sylado dalam lagunya berjudul Sersan Tukiman; bahkan dengan jargon “demi kemanusiaan” tak tanggung-tanggung juga mereka membunuh jutaan manusia dengan perang. Perang Vietnam dan perang teluk dicontohkan Chomsky untuk menggambarkan kepiawaian Amerika dalam propaganda. Amerika berusaha merekayasa keadaan dengan memelintirkan sejarah agar seolah-olah mereka menjadi pahlawan atas perang yang diletuskannya. Amerika berusaha agar seakan-akan ketika menyerang dan menghancurkan satu pihak, akan terlihat sebagai bentuk melindungi dan mempertahankan diri. Misal, jika Amerika menghujani Vietnam selatan dengan bom, itu berarti Amerika sedang mempertahakan Vietnam selatan dari suatu pihak. Taruhlah orang Vietnam selatan itu sendiri karena tidak ada orang lain disana.

 Cara-cara yang demikian, sesekali perlu dilakukan apabila acara sepak bola atau komedi di televisi tidak lagi mampu mengalihkan perhatian rakyat pada kondisi sosial dan ekonomi Amerika yang semakin memburuk. Dengan menciptakan musuh bersama, maka perhatian rakyat akan terfokus ke arah itu. Dengan demikian rakyat tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Terorisme yang selalu digambarkan berpenampilan bak Osama Bin Laden ataupun Saddam Hussein menjadi musuh bersama yang kerap dimainkan Amerika. Tragedi 9/11 dengan berbagai konspirasi di baliknya telah menimbulkan keparnoan yang luar biasa bagi masyarakat Amerika terhadap hal-hal yang berbau Arab dan Islam. Keparnoan itu yang kini kita kenal dengan islamophobia dan tidak hanya terjadi di Amerika namun juga menyebar di Indonesia. Islamophobia ini menjadi  virus yang menyebar melalui berbagai media massa selain virus sebelumnya red scare (ketakutan terhadap komunisme) yang efeknya tak semenakutkan dulu.

Namun tak dapat dipungkiri satu dua intelektual bisa tumbuh di kalangan rakyat, mereka mengoreksi besar-besaran atas segala jalannya pemerintahan yang buruk. Dalam demokrasi yang ideal tentu hal ini dipandang baik dalam menjaga girah dan nalar berdemokrasi. Namun kenyataannya demokrasi tak berjalan ideal, dan tentu sebaliknya intelektual yang berseru atas hak-hak rakyat itu dipandang ibarat kutil yang harus segera “diobati” dan dijaga agar tidak menyebar.Hasil pemikiran dari kelompok intelektual yang berpihak pada rakyat ini sebisa mungkin tidak menyebar. Rakyat yang memiliki keresahan yang sama atas pemerintah, sebisa mungkin tidak bersatu dan menyatukan pikiran. Sebab ini bisa sangat mengancam. Begitulah demokrasi dijalankan di mana tujuan utamanya bukan lagi demi rakyat melainkan demi urusan materiel: harta dan kekuasaan. Dalam demokrasi yang seperti ini, rakyat bisa jadi pengganggu; apalagi kalau rakyat sudah berpikir, bersatu dan berserikat. Pada 1935 gerakan Wagner Act membuat kaum buruh berhasil menduduki kursi legislatif. Bagi kaum empunya kekuasaan dan kekayaan, tentu hal ini merupakan penyimpangan dari demokrasi dan hal ini tidak boleh diulang.

Maka dari itu presepsi masyarakat harus tetap di kontrol melalui media massa. Berita tentang keburukan pemerintah harus ditutupi dan prestasinya harus diangkat. Musuh-musuh baru diciptakan untuk menutupi narasi-narasi yang menyasar rencana buruk pemerintah. Dan inilah ajaibnya propaganda. Kritik Chomsky ini sebenarnya tak hanya berlaku di Amerika melainkan kita juga bisa menggunakannya untuk melihat kenyataan politik di negara +62 atau dalam miniaturnya di student goverment (pemerintahan mahasiswa). Lantas apakah kita akan percaya pada warta berita di media?

Sebagai mahasiswa di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, tentu saya percaya bahwa pendidikan adalah salah satu jalan tol untuk melewati ini. Institusi pendidikan tak cukup hanya memproduksi intelektual, melainkan seharusnya memproduksi intelektual yang mampu berpikir bebas dan terbuka untuk menemukan kebenaran. Sehingga dengan kebebasannya itu, ia bisa membebaskan rakyat dari penindasan, kemiskian, kebodohan yang tersusun secara sistematis dalam sistem demokrasi yang korup.

Setelah membaca buku “Politik Kuasa Media” milik Noam Chomsky ini, saya teringat pada Allegory of Cave karya Plato yang saya kira dapat digunakan sebagai landasan pandangan kita mengenai pendidikan. Dalam kisah ini, Plato membagi dunia menjadi dua sisi yakni dunia di dalam gua yang gelap dan dunia di luar gua yang bermandikan cahaya. Barangkali kita adalah golongan manusia yang hidup terpasung di dalam gua sejak kecil, dan kita hanya bisa melihat kehidupan dari bayang-bayang yang muncul dekat mulut gua. Kita melihat bayang-bayang itu bergerak dan seolah-olah hidup dan kita memandang bahwa bayang-bayang itu adalah realitas sebenarnya.

Namun suatu waktu salah satu dari tahanan gua itu (katakanlah itu Kamu)  berhasil bebas dari belenggu dan perlahan berjalan mendekati mulut gua. Begitu keluar dari gua Kamu langsung diterpa masalah, yakni tak terbiasa dengan cahaya. Namun lambat laun Kamu berhasil beradaptasi dengan cahaya dan melihat kehidupan yang sebenarnya terjadi di luar gua. Lalu Kamu berkata, “oooh jadi ini yang terjadi sebenarnya”, lalu dengan pengetahuan itu Kamu kembali ke dalam gua lalu menceritakannya pada kawan-kawanmu yang masih terpasung di sana. Namun sayangnya mereka tidak percaya sebab mereka kadung nyaman dengan kehidupan dan segala realitas di dalam gua. Mereka pun memilih tinggal di sana dan enggan dibebaskan.

Pesan yang bisa kita tarik dari kisah yang ditulis Plato dalam Republika ini adalah bisa jadi realitas yang kita yakini sekarang bukanlah realitas sebenarnya. Bisa jadi realitas yang digambarkan dalam media massa hanyalah rekayasa penguasa. Bisa jadi kitalah orang-orang yang selama ini hidup di dalam gua dan percaya pada bayang-bayang semata.

Maka dari itu, saya kira sudah saatnya kita membebaskan diri dari belenggu kenyamanan. Sudah saatnya kita dengan berani mendaki gua, melangkah menuju cahaya. Agak sulit memang, menempuh jalan menemukan kebenaran. Butuh tenaga lebih agar tidak limbung, saat cahaya yang silau membuat kita linglung. Ada keraguan dan ada kebingungan yang turut mengikuti jejak kita, sampai lambat laun kita berhasil melakukan penyesuaian dengan kebenaran yang ada. Itulah proses belajar yang mesti kita jalani seiring kita menjadi dewasa. Dengan

 Begitulah semestinya pendidikan yang semestinya kita jalani, sebab kita tak dapat terbebas dari hidup yang fana. Namun perjalanan untuk menemukan kebenaran yang lebih hakiki, keabadian ada di sana.

Share:

Novel Critical Review, Representation of gender equality

 

“Mulan Live Action Novelization by Elizabeth Rudnick”

By: IMMawan Toni Rizkina

Ketua Bidang TKK PK IMM FKIP 2021-2022


The novel entitled "Mulan" is a written work written by Elizabeth Rudnick and printed by Disney Press in 2020. This novel is written based on the film of the same title produced by Disney Pictures. Tells about the struggle of a beautiful girl in China who replaces her father to go to war disguised as a man. The heroic action of Mulan's character, who has an impressive ability to play the sword, is able to ignite the spirit that women can be empowered to defend their family and nation. In general, this book conveys the same message as the film, namely about gender equality.

Tells about Mulan a girl who is strong and brave. In her family her only has daughters, namely Mulan and her sister. Mulan's father had always recognized her daughter's extraordinary chi, but Mulan didn't match what a woman was supposed to do in society. Mulan is very difficult to act like a woman should. She has many demands as a woman. But actually he really enjoyed playing with her sword. When the emperor asked for each family to give up one son, the family could only surrender because her father was recruited because there were no sons in the family. When her aging father is recruited to serve in the army again, Mulan takes her father's place disguised as a boy named Hua Jun. Mulan has to keep her big secret that she is a girl and trains with the male soldiers.

This novel is very important for feminist activists to read. This is because many representations of gender equality are presented and this is very rarely found in other written works. The message of feminism conveyed through interactions between characters, written in an easy-to-understand writing style, provides excellent value in this book. This is in accordance with the Symbolic Interactionism Theory. The focus of symbolic interactionism is the impact of meanings and symbols on human action and interaction. Humans study symbols and also meanings in social interactions so that these meanings and symbols give certain meanings to social actions and social interactions. People often use symbols to communicate something about themselves, for example communicating a certain lifestyle (Ritzer, 2013: 292). The main element of this theory is the interaction of symbols. Humans interact with others through the delivery of symbols, then others give meaning to the symbols so that an understanding is created between individuals who carry out these interactions. The symbol discussed in this book is how women have equal opportunities to fight and become leaders. Where when Mulan has the ability to ride and play the sword very well and is able to give encouragement to other soldiers, Mulan is given the trust to lead an army that is mostly male.

Although there are some characters that were removed from the film, overall this book is very good to be read by all people and is very suitable to be read by those of you who like adventure drama books. In addition to the message of feminism, this book also conveys a warm message of nationalism and kinship. Through this book, we will learn about the messages conveyed regarding feminism and gender equality.

 

Share:

Strategi Untuk Menjadi Wirausahawan Yang Sukses

Oleh: IMMawati Zulfa Izzatun Nikmah

Sekretaris Bidang Ekowir PK IMM FKIP 2021-2022


Kewirausahaan merupakan suatu proses mengidentifikasi mengembangkan dan membawa visi ke dalam kehidupan.

Visi yang dimaksud bisa berupa ide atau gagasan yang inovatif. Cara yang lebih baik dalam menjalankan suatu hal dan berpikir untuk mendapatkan peluang. Hasil dari proses tersebut bisa berupa usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.

Sedangkan arti kata wirausaha yakni seseorang yang membangun atau merintis usaha baru atau bisa juga seseorang yang membuka peluang kerja dengan disesuaikan modal yang ada. Dengan hadirnya pandemi covid 19 pada tahun 2020 banyak orang yang kehilangan pekerjaannya banyak pedagang yang gulung tikar disebabkan adanya pandemi covid 19. Namun hal ini justru sangat berpengaruh kepada mereka yang memiliki jiwa wirausaha yang membara. Mereka harus memutar otak bagaimana agar penjualan mereka tetap berjalan meski dalam keadaan yang seperti ini.

Bersama dengan risiko besar yang diambil oleh wirausahawan mereka dituntut untuk memiliki inovasi dan kreativitas yang perlu dikembangkan dengan tujuan untuk bisa beradaptasi dengan era pandemi.

Dengan berbagai permasalahan yang ada artikel ini berguna untuk mengetahui bagaimana strategi untuk menjadi wirausahawan yang sukses.

1. Kerja keras dan tekun

Jika kalian ingin mempertahankan atau mengembangkan usaha di meskipun di era pandemi maka kunci utamanya yakni bekerja keras dan tekun dalam mengerjakan sesuatu. Hal ini memang terdengar simple namun jika hal ini tidak dilakukan maka usaha yang akan kamu kembangkan terasa sia-sia.

2. Berani menantang diri

Seorang wirausaha harus siap dalam menghadapi tantangan atau resiko kedepannya. Maka semua itu bisa dimulai dengan menantang diri sendiri untuk bisa merubah pemikiran yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin.

3. Percaya diri

ketika kalian sedang atau ingin melakukan hal yang baru kalian harus memiliki kepercayaan diri terlebih jika mendapatkan kritikan yang menyakitkan hati maka jangan di anggap itu sebagai beban namun anggaplah hal tersebut sebagai motivasi untuk kedepannya. Ketika kepercayaan diri kalian semakin bertambah maka semua akan menjadi terasa lebih ringan namun sebaliknya jika kepercayaan diri kalian mulai menurun maka itu akan menjadikan suatu beban dalam pundak kalian.

Share:

Popular

Labels

Recent Posts

Label Cloud

About (2) Agenda (8) Artikel (21) bidang hikmah (1) Bidang Immawati (1) Bidang Kader (1) bidang SPM (1) BTKK (1) buletin (2) Data Base (1) ekowir (1) galeri (5) Immawan (2) Immawati (9) Informasi (8) islam (2) Kajian (1) MAKALAH (2) Opini (15) Organisasi (2) Profil (1) Puisi (4) Resensi (6) Review (1) struktur (1) Tabligh (2)

QOUTES

Tidak akan ada kebenaran yang muncul di kepala, bila hati kita miskin akan pemahaman terhadap ajaran agama Allah.
-KH.Ahmad Dahlan